Laman
0 Beasiswa Al-Azhar Mesir tahun 2009
By Heri on Sabtu, 12 Desember 2009
0 Info Beasiswa Pendidikan
By Heri on
Germany
Economic Sociology & Political Economy (7 positions): Klik Disini
Cell & Systems Biology (5 positions): Klik Disini
0 Imam Muslim
By Heri on Kamis, 10 Desember 2009
Imam Muhadits Muhsin dari Naisabur Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Imam Muslim dilahirkan di Naisabur tahun 202 H atau 817 M. Naisabur, saat ini termasuk wilayah Rusia. Dalam sejarah Islam, Naisabur dikenal dengan sebutan Maa Wara'a an Nahr, daerah-daerah yang terletak di belakang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Naisabur pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan tidak kurang 150 tahun pada masa Dinasti Samanid. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, kota Naisabur juga dikenal saat itu sebagai salah satu kota ilmu, bermukimnya ulama besar dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Kecenderungan Imam Muslim kepada ilmu hadits tergolong luar biasa. Keunggulannya dari sisi kecerdasan dan ketajaman hafalan, ia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Di usia 10 tahun, Muslim kecil sering datang berguru pada Imam Ad Dakhili, seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, Muslim mulai menghafal hadits dan berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah dalam periwayatan hadits. Seperti orang yang haus, kecintaanya dengan hadits menuntun Muslim bertuangalang ke berbagai tempat dan negara. Safar ke negeri lain menjadi kegiatan rutin bagi Muslim untuk mendapatkan silsilah yang benar sebuah hadits. Dalam berbagai sumber, Muslim tercatat pernah ke Khurasan. Di kota ini Muslim bertemu dan berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Pada rihlahnya ke Makkah untuk menunaikan haji 220 H, Muslim bertemu dengan Qa’nabi,- muhaddits kota ini- untuk belajar hadits padanya. Selain itu Muslim juga menyempatkan diri ke Hijaz. di kota Hijaz ia belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar. Di Irak Muslim belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Kemudian di Mesir, Muslim berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Termasuk ke Syam, Muslim banyak belajar pada ulama hadits kota itu. Tidak seperti kota-kota lainnya, bagi Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah Imam Muhaddits ini berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama ahli hadits. Terakhir Imam Muslim berkunjung pada 259 H. Saat itu, Imam Bukhari berkunjung ke Naisabur. Oleh Imam Muslim kesempatan ini digunakannya untuk berdiskusi sekaligus berguru pada Imam Bukhari. Berkat kegigihan dan kecintaannya pada hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, menyebutkan, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, lanjutnya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sedang menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar 300.000 hadits. Untuk menyelasekaikan kitab Sahihnya, Muslim membutuhkan tidak kurang dari 15 tahun. Imam Muslim dalam menetapkan kesahihan hadits yang diriwayatkkanya selalu mengedepankan ilmu jarh dan ta'dil. Metode ini ia gunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Selain itu, Imam Muslim juga menggunakan metode sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat). Dalam kitabnya, dijumpai istilah haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarani (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), maupun qaalaa (ia berkata). Dengan metode ini menjadikan Imam Muslim sebagai orang kedua terbaik dalam masalah hadits dan seluk beluknya setelah Imam Bukhari. Selain itu, Imam Muslim dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah. Keramahan yang dimilikinya tidak jauh beda dengan gurunya, Imam Bukhari. Dengan reputasi ini Imam Muslim oleh Adz-Dzahabi disebutan sebagai Muhsin min Naisabur (orang baik dari Naisabur). Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsiqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada dengan Maslamah bin Qasim, Imam An-Nawawi juga memberi sanjungan: "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits." Seperti halnya Imam Buhari dengan Al-Jami' ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Imam Muslim juga memiliki kitab munumental, kitab Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih karya Imam Muslim lainnya, Shahih Muslim yang memuat 3.033 hadits memiliki karakteristik tersendiri. Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada penjabaran hadits secara resmi. Imam Muslim bahkan tidak mencantumkan judul-judul pada setiap akhir dari sebuah pokok bahasan. Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis. Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Perbedaan ini terjadi bila dilihat dari sisi pada sistematika penulisannya serta perbandingan antara tema dan isinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an agar dapat dipastikan sanadnya bersambung. Sementara Imam Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi dengan tidak adanya tadlis. Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsiqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Selain itu, kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding al-Bukhari. Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya. Muslim juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab seperti yang dilakukan Bukhari lakukan. Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H dengan mewariskan sejumlah karyanya yang sangat berharga bagi kaum Muslim dan dunia Islam. Karya-karya Imam Muslim Sepanjang hidup Imam Muslim, karya-karya yang berhasil ia tulis antara lain: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.
(Azhar Suhaimi, S.Ag)
0 Akhir Desember Ratusan Aktifis Eropa Tiba di Gaza
By Heri on Rabu, 09 Desember 2009

KNRP - Jalur Gaza selama bulan Desember dan Januari mendatang akan menerima delegasi parlemen, masyarakat Eropa, dan konvoi bantuan kemanusiaan ke-3 yang digagas oleh anggota parlemen Inggris George Galloway, dalam upaya untuk memecahkan isolasi Israel atas Jalur Gaza sejak Juni 2007.
Dalam siaran persnya pada Sabtu (5/12), Hamdi Shaath, Ketua Komisi Pemerintah untuk Memecahkan Blokade dan Penerima Delegasi di Gaza, mengatakan, "Beberapa delegasi solidaritas internasional dari Perancis, Britania dan negara-negara Eropa lainnya akan tiba ke Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah (perbatasan dengan Mesir) pada akhir bulan ini, seperti juga akan tiba delegasi yang terdiri dari 30 anggota parlemen Eropa pada pertengahan Januari tahun depan." Demikian seperti disitat islamonline, Sabtu (5/12).
Sementara Jamal al-Khudri, Ketua Komite Rakyat untuk Melawan Pengepungan atas Gaza, memberikan keterangan, "Delegasi Prancis akan datang ke Gaza yang terdiri dari sekitar 300 aktivis perdamaian yang akan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan anti-isolasi Zionis, demikian juga akan hadir delegasi Parlemen Inggris."
Terkait konvoi bantuan yang akan menuju ke Gaza, al-Khudari menjelaskan bahwa konvoi ‘Urat Nadi Kehidupan-3” yang dipimpin oleh Galloway, adalah konvoi yang sedang ditunggu-tunggu, yang akan bertolak dari London pada Ahad (6/12), yang akan membawa bantuan medis dan kemanusiaan kepada rakyat yang terkepung di Jalur Gaza. Konvoi itu sendiri dijadwalkan tiba di Gaza pada 27 Desember yang bertepatan dengan peringatan tahun pertama aneksasi Israel atas Gaza yang telah menewaskan lebih dari 1.400 warga Gaza.(milyas/iol)
Sumber: KNRP
0 Kita dan al-Qur`an (Mengukur Kesetiaan)
By Heri on
“Berilah mata-mata kalian itu kesempatan beribadah!”, kata Rasululloh, lalu sahabat bertanya, “bagamana caranya?”, Rasulullah menjawab, “Ibadah mata itu melihat mushaf (kitab suci al-Qur`an), merenungi dan mengambil ibrah dari keajaiban-kejaiban yang ada di dalamnya ” (HR. al Baihaki). “Teruslah engkau melihat dan memandangal-Qur`an” (Ibnu Mas’ud). Ibadah satu ini membantu kita terus terhubung dan terkait dengan al-Qur`an.
Rasulullah Saw. sangat senang mendengar dan menyimak bacaan al-Qur`an, “..dan aku suka mendengar al-Qur`an dari orang lain”.
5. Wirid Tadabbur
6. Wirid Mengamalkan
Wahai saudaraku..
0 Kakek Berwajah Teduh
By Heri on

Seorang lelaki tua berwajah syahdu berjalan terseok membawa kopernya. Ia tertatih-tatih mengejar kereta api yang hendak bertolak. Kepanikan yang menyelimuti raut wajahnya tidak bisa ditutupi. Wajar, ia memang belum membooking kursi. Satu per satu gerbong kereta dihampiri. Hingga ia sampai di gerbong pertama. Di dalamnya penuh anak muda yang sedang riang-gembira bernyanyi bercampur gelak-tawa. Ia meminta izin kepada penumpang untuk sekiranya boleh singgah bersama mereka. Namun respon yang didapatkan,
“Kamu sudah kakek-kakek begini, maaf saja ya.. Kami tidak ingin kamu merusak suasana. Kami sudah asyik di gerbong ini bersenang-senang, mohon tidak diganggu.”
Sang kakek terus beralih ke gerbong selanjutnya. Begitu optimis ia mengetuk penumpang yang sedang khusyu membaca. Gerbong ini terisi anak muda yang serius belajar. Terlihat wajah-wajah kutu buku. Dengan santun, kakek meminta izin untuk duduk bersama mereka. Sayangnya, mereka menolak dengan alasan khawatir ia akan memecah konsentrasi selama di perjalanan. Mereka ingin fokus membaca dan belajar hingga sampai stasiun tujuan.
Koper besar yang dibawanya terus ditenteng. Masih ada waktu mencari. Walau 15 menit lagi, kereta jalan. Harapan masih ada. Ada dua gerbong tersisa belum dicoba. Tibalah ia tempat yang ditumpangi sekumpulan pebisnis. Para profesional. Ia amati wajah-wajah mereka sedemikian penat dan padat. Masing-masing begitu sibuk. Ada yang sedang hati-hati membuat perencanaan bisnis. Ada yang sedang cermat melakukan super visi dan evaluasi. Ada yang sedang teliti menghitung untung-rugi. Ada yang sedang serius bernegosiasi. Serentak mereka menyapa sang kakek,
“Maaf pak.. Kami tidak ada waktu untuk melayani.”
Akhirnya, sang kakek sampai di gerbong ke empat. Gerbong terakhir. Ia dapati didalamnya sebuah keluarga yang bersahaja. Aura kesalihan begitu nampak di wajah setiap anggotanya. Sebelum sang kakek mengucap, mereka terlebih dahulu menyapa hangat. Menyambut sepenuh hati. Menghidangkan minuman dan makanan. Tangis haru membasahi pipi sang kakek. Ia meminta bantuan untuk mengangkat dan membuka koper besar yang dibawanya. Setelah terbuka, mereka terkejut. Ada banyak emas, berlian dan permata bahkan uang bergepok-gepok. Sang kakek tersenyum tenang. Masing-masing anggota keluarga mendapat hadiah tak terduga darinya.
Setibanya distasiun akhir, mereka semakin terperanjat. Diluar kereta api telah bersiap-siap raja negeri beserta pengawalnya hendak menyambut salah satu penumpang. Ternyata penumpang istimewa itu adalah sang kakek berwajah teduh. Raja memerintahkan supaya segera diboyong ke istana. Sang kakek bersedia jika raja mengizinkannya mengikut sertakan keluarga berhati baik untuk bersamanya tinggal di istana. Raja menyetujui bahkan menyiapkan istana khusus untuk keluarga mulia ini sebagai balasan atas kemurahan hati dan kebaikan mereka terhadap sang kakek.
Penumpang di gerbong lain tertunduk sedih penuh penyesalan. Mereka meratapi kekerdilan jiwa hingga acuh dan tiada peduli terhadap sang kakek. Kini mereka hanya menggigit jari. Begitulah kisah sebagian kita bersama Ramadan. Semoga Ramadan kali ini memberi arti.
(Suhartono TB, Lc.Dipl)
0 Abul A’la Al Maududi
By Heri on Senin, 07 Desember 2009
Biografi Abul A’la Al Maududi
Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda.
Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan kemudian wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai ‘alim. Kebanyakan biografi Maududi hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama sendiri. Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya.
Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres.
Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad ‘Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).
Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami’ati ‘Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami’at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.
Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami’at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke delapan belas. Pada 1926, ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.
Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya.
Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.
Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan erang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.
Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin.
Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama’at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama’ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama’at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.
Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama’at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama’at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama’at. Dia telah “kembali” kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius.
(Sumber : Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun I Oktober 2000)
Maulid Nabi
Seindah Sahabat Mencintai Rasulullah
Masjid Al Aqsha



