0 WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)



WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009


A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

http://michaelheart.com/Song_for_Gaza.html
Read more

0 Kronologi sebelum terjadi pembantaian Gaza

Semenjak Penarikan mundur Pasukan Israel dari Jalur Gaza 15 Agustus 2005, telah terjadi beberapa kejadian politik dan militer di Gaza:

Semenjak HAMAS menguasai dan mengendalikan Gaza Juni 2006, semenjak itu pula lah Israel memberlakukan blokade militer dan ekonomi terhadap Gaza dengan alasan untuk menghentikan (seperti apa yang mereka katakan) tembakan-tembakan roket perlawanan (muqowamah)

Tahun 2006

8 Juni : Pesawat2 tempur Israel membunuh pimpinan umum Fron Perlawanan Rakyat di Jalur Gaza, serta seorang Pengawas Umum di Kementrian Dalam Negeri, Jamal Athoya dan Abu Samhadanah.
27 Juni : Pihak Muqowamah/perlawanan Palestina melancarkan aksi “Wahm Al Mutabaddad” si selatan Jalur Gaza yang berhasil menahan seorang serdadu Israel, Jalad Syalit serta membunuh dua orang serdadu dan mencederai beberapa serdadu lainnya. Sementara itu dua orang syahid dari pihak perlawanan.
Juli : Pembantaian yang dilakukan oleh Israel di daerah Pesisir laut Gaza yang menyebabkan syahidnya nyawa seorang anak bernama Huda.
Penjajah, Israel, beberapa kali melakukan operasi militer di Jalur Gaza yang gagal membebaskan Jalad Syalit dan menghentikan tembakan-tembakan roket.

Tahun 2007
14 Juni : Presiden Palestina, Mahmud Abbas, menyingkirkan Pemerintah yang dipimpin Ismail Haniya dan mengumumkan kondisi gawat darurat di Jalur Gaza.
15 Juni : HAMAS menguasai Jalur Gaza setelah menumbangkan pasukan keamanan Fatah yang loyal kepada Mahmud Abbas.
19 Desember : Israel Mengumumkan bahwa Gaza adalah Kelompok pembangkang
28 Oktober : Israel memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Gaza

Tahun 2008
17 Januari : Israel Memberlakukan Blokade terhadap Gaza sebagai balasan terhadap apa yang mereka namakan penembakan roket-roket dan mortir-mortir terhadap pemukiman Israel.
23 Februari: Israel melakukan operasi militer yang mereka namakan ”Musim Gugur yang Panas” yang menelan korban 120 palestina syahid
19 Juni : Memasuki perjanjian damai antara HAMAS dan Israel dengan Mesir sebagai perantara/penengahnya
5 November: tujuh orang Palestina syahid sebagai tumbal operasi militer zionis terhadap Gaza
12 November : Syahidnya empat orang pejuang perlawanan Palestina dalam pertempuran melawan serdadu2 Israel di Gaza.
19 Desember: Brigade Al Quds, sayap militer Jihad Islami melancarkan roket-roket dari Gaza ke kawasan Israel sesaat setelah HAMAS secara resmi mengumumkan berakhirnya perjanjian damai.
20 Desember: Brigade Izzuddin Al Qossam, sayap militer HAMAS untuk kali pertama melancarkan roket ke kawasan Israel setelah berakhirnya perjanjian gencatan senjata.
22 Desember: HAMAS menerima perjanjian gencatan senjata selama 24 jam atas permintaan Mesir.
26 Desember : Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, mengumumkan ancamannya melakukan operasi militer terhadap Gaza.
27 Desember : Agresi militer Israel terhadap Gaza yang merenggut ratusan nyawa dan korban luka-luka

Sumber: AlJazeera+Perancis
http://www.aljazeera.net/NR/exeres/2B9B4020-4B77-42DD-8BC3-4458E2DE55C0.htm
Read more

0 Teriakan Ibu-ibu Gaza: Biarkan Pemerintah Arab Bergembira


Teriakan Ibu-ibu Gaza: Biarkan Pemerintah Arab Bergembira

Gaza: “Biarkan pemerintah Arab bergembira.” Demikian teriak seorang ibu ketika melihat dua orang anaknya yang gugur di depan kamar jenazah rumah sakit as Shifa di kotaGaza.

Sementara itu seorang ibu lain tengah menggendong putri saudaranya tertatih-tatih menuju satu-satunya rumah sakit di kotaGaza tersebut. Dia mendapati jasad para syuhada bergelimpangan di jalan-jalan rumah sakit. Tidak ada ranjang kosong untuk bocah yang mengalami luka bakar sangat parah yang ada di antara kedua tangannya itu.

“Ini adalah anak saudaraku (Ahmad al Burini), yang tinggal di samping salah satu pos keamanan. Ketika pos itu dibom, rumah itu runtuh menimpa semua yang ada di dalamnya. Saudaraku gugur dan istrinya terluka parah terbaring di rumah sakit. Anak laki-lakinya yang belum genap berusia 7 tahun terenggut nyawanya. Dan ini adalah putri dia yang masih balita mengalami luka bakar sangat parah,” ungkapnya kepada wartawan.

Sambil berupaya meringankan rasa sakit yang dialami sang bocah, mata bercucuran air mata dan berkata, “Apa dosa dia, terbangun dengan kondisi seperti ini. Tanpa ayah dan ibu.” Kemudian dia menggetarkan kepalanya dan menyudahi, “Hasbunallahu Wani’mal Wakil (Cukuplah Allah sebaik-baik penolong kami).”

Pembantaian di Jalur Gaza terus berlanjut dan korban terus bertambah. Israel terus menggempur rumah-rumah dan tempat ibadah. Jumlah korban hinggsa kini, Rabu (31/12), mencapai lebih 390 gugur dan lebih dari 1800 lainnya terluka, 300 di antaranya dalam kondisi kritis. Sesuai dengan data yang disampaikan Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem. Diperkirakan angka itu masih akan terus bertambah. Disamping agresi Israel terus berlanjut, puluhan korban kini masih berada di bawah puing-puing reruntuhan.

Bau Mayat

Segera saja kamar mayat di rumah sakit as Shifa, yang hanya muat untuk 30-an jenazah, penuh sesak di tengah-tengah kedatangan puluhan regu penolong dan warga sipil yang membawa jasad dan ptongan tubuh para syuhada di jalan-jalan rumah sakit sehingga bau mayat memenuhi semua sudut rumah sakit.

Seorang pemuda bernama Muhammad Basyir dengan kedua kali telanjang tergopoh-gopoh sambil menggendong jasad seorang bocah bernama Adi Abu Munsi yang berusia 7 tahun. Dia terkena bom yang mematikan di bagian wajahnya saat dia bersama ayahnya, Abdul Hakim, yang juga gugur dalam serangan udara Israel membombardir pos polisi Palestina di Deir Balah di kotaGaza.

Lobi rumah sakit as Shifa semakin kacau dengan datangnya puluhan mobil ambulan dan mobil warga yang membawa jasad para syuhada dan korban yang luka. Melalui pengeras suara, regu penolong menyerukan kepada warga yang mengenali jasad keluarga mereka agar segera dibawa pulang untuk dimakamkan agar tidak membusuk akibat puluhan jenazah yang menumpuk di depan kamar mayat rumah sakit.

Tiba-tiba melengking teriakan seorang ibu, Asma (40), yang berjalan di antara jenazah, “Dua anak saya gugur.” Tanpa henti menangis, dengan kedua kaki telanjang dan kepala terbuka, wanita yang telah kehilangan dua darah dagingnya ini berteriak, “Biarkan pemerintah Arab berbahagia.”

Sementara itu atas kereta jenazah terbaring jasad Muhammad Abu Sya’ban, seorang anggota polisi Palestina. Di sampingnya jasad seorang bocah yang belum dikenali identitasnya. Wisam, saudara kandung Abu Sya’ban yang tidak bisa menahan air matanya, mengatakan, “Ini adalah pembantaian yang mengerikan.”

Abu Jihad (65), warga asal kampong Zaitun di timur Gaza, ini berjalan ke sana kemari penuh kelelahan di antara jasad para korban tanpa menemukan putranya yang bekerja di kepolisian. Salah seorang temannya memberitahu anaknya sudah meninggal dan masih berada di bawah puing reruntuhan kantor organisasi urusan tahanan yang menjadi target serangan udara Israel.

“Aku Kehilangan Penyejuk Hatiku”

Jauh dari rumah sakit, Ilyan jatuh pinsan ketika mendengar salah seorang putranya berteriak, “Ayah … Izzuddin telah meninggal.” Sesaat kemudian dia terbangun dan menangisi putra terkecilkan yang meninggal dalam serangan udara Israel yang menghancurkan kantor imigrasi. Tidak lama kemudian dia dikejutkan dengan berita lain yang membawa bau kematian, “Anak laki-lakimu Bakar Anwar telah pergi (meninggal). Anak saudaramu (Muhammad) juga meninggal.”

Kali ini, seluruh anggota keluarga jatuh pinsan. Rafiq, bocah berusia 3 tahun berteriak histeris, “Papa … Aku ayang papa…Kemana kau pergi…”

Anwar, dia meninggalkan seorang istri dan dua bocah kecil. Rafiq, anaknya yang berusia 3 tahun tindak henti menyanakan tentang ayahnya. Sedang anaknya yang kecil, Anas, baru berusia empat bulan, tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

Dengan sangat berat Ibu Anwar berkata, “Aku telah kehilangan anak yang paling besar dan paling kecil. Saya tidak meninggalkan anak-anaknya. Aku telah kehilangan penyejuk hatiku. Demi Allah, cahaya ini telah padam… telah padam…”

Penderitaan memiliki banyak wajah. Meski yang mengikat di antara penderitaan itu adalah darah. Sepekan sebelumnya, Riim, isrti Ali Abu Riyalah, mengenakan gaun pengantin putih. Dan hari ini, dia mengenakan baju hitam pekat di sisi pengantinnya.

Dia mengatakan, “Saya tidak membayangkan dia meninggalkan saya begitu cepat. Sungguh, dia pernah bercanda kepadaku, engkau akan mendengar kabar kesyahidanku (mati syahid) suatu hari … namun secepat ini … ya Allah.”

Sedang ibunya, melontarkan sumpah serapah kemarahannya kepada pemerintah Arab. “Apakah yang terjadi di leher kami adalah air. Kami meninggal dalam perang paling biadab dan paling kotor yang pernah dikenal dalam sejarah.”

Di luar tembok rumah Abu Riyalah, suara jeritan melengking tinggi dari semua tempat. Gang-gang penuh dengan korban meninggal. Dan baju hitam menjadi baju resmi kaum wanita di Jalur Gaza. (seto)
Sumber: http://www.infopalestina.com
Read more
 
Powered by Blogger