2 Khutbah Idul Adha 1430 H:Kurban dan Pemberdayaan Potensi-potensi Umat

Kurban dan Pemberdayaan Potensi-potensi Umat
Heri Efendi, Lc

Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah, yang telah mengumpulkan dan mempertemukan wajah-wajah yang penuh cahaya dan jiwa-jiwa yang selalu mengharapkan ridha dan maghfirahnya untuk selalu bertaqorrub, tunduk dan taat kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga dan para sahabatnya, dan juga para pengikutnya hingga akhir jaman.

Allahuakbar3x walillahilhamdu..
Ma’asyiralmuslimin jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah..
Kebahagiaan dan kenikmatan istimewa kita pada hari ini adalah karunia Allah yang mempertemukan kita ditempat yang mulia ini di hari yang penuh kebahagiaan hari raya Iedul Adha. Ied berarti hadirnya kembali kebahagiaan-kebahagiaan yang Allah peruntukkan bagi hamba-hamba-Nya. Kebahagiaan yang Allah persiapkan bukan bagi orang-orang tertentu saja, tapi bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW dimanapun mereka berada. Miskin ataupun kaya, pejabat ataupun rakyat semaunya pantas untuk berbahagia, semuanya layak untuk bergembira. Apalagi dihari ini dan ditiga hari tasyrik mendatang, Allah syariatkan hamba-hambanya untuk bertaqorrub dengan berbagai ragam ketaatan. Yang terpenting diantaranya adalah menyembelih hewan kurban dan mensedekahkan sebagian dari yang telah dikurbankannya itu.

Ma’asyirol muslim rahimakumullah...
Bahkan dikota suci Makkah, yang jaraknya ribuan kilo meter dari bumi yang kita pijak ini, jutaan kaum Muslimin, para jamaah haji dari berbagai belahan dunia, baru saja menyelesaikan rangkaian manasik haji mereka. Setelah berhari-hari mereka melaksanakan berbagai manasik haji seperti ihram, thawaf, sa’i, melempar jumroh dan wukuf. Dihari Iedul Adha ini mereka kumandangkan takbir,tahmid dan tahlil yang berggema dan berbaur dengan kumandang serupa dari seluruh kaum muslimin di berbagai penjuru dunia sebagai pertanda telah hadirnya kembali hari yang dinanti-nantikan, hari raya Iedul Adha.

Allahuakbar3x walillahilhamdu..
Ma’asyiralmuslimin jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah..
Pensyariatan ibadah kurban selayaknya memiliki arti dan pemaknaan tersendiri bagi kaum muslimin. Berkurban pada hakikatnya menjalankan perintah Allah, “ Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat dan berkunbanlah untuk Tuhan mu.” (Al Kautsar:1-2). Kurban secara bahasa berasal dari kata “qaruba - yaqrobu – qaribun-qurbaanan” yang berarti dekat. Makna ini mengandung isyarat, bahwa orang yang berkurban berarti dirinya dekat dengan Allah, atau paling tidak –melalui kurbannya ini- ia berusaha untuk lebih dekat kepada Allah. Karena jika seseorang jauh dari Allah, dan tidak ada hasrat untuk mendekat, niscaya berpoya-poya membelanjakan harta untuk memuaskan hawa nafsunya lebih diutamakan daripada berkurban, apalagi pergi ke tanah suci menunaikan ibadah haji.

Kaum Muslimin, jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah..
Menurut Jumhur Ulama Kurban adalah ibadah yang hukumnya sunnah muakkadah. Dan ibadah seperti ini hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Dengan kata lain, Rasulullah selalu komitmen untuk melaksanakan dan menepatinya namun tidak mewajibkannya kepada kaum muslimin. Maka dalam madzhab Hanafi, ibadah seperti ini disebut sebagai ibadah wajib. Artinya, derajat hukumnya satu tingkat diatas sunnah namun tidak sampai kederajat fardlu.
Dalam Ayat pensyariatannya Allah mensejajarkan kurban dengan shalat, “ Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat dan berkunbanlah untuk Tuhanmu.” (Al Kautsar:1-2). Bahkan Allah jadikan shalat dan kurban dua jenis ibadah yang mewakili wujud kesyukuran atas berbagai limpahan nikmat yang Allah turunkan. Sebuah cermin betapa ibadah kurban dan pesan-pesan yang dibawanya merupakan bentuk ketaatan yang sangat penting dalam Islam dan dalam kehidupan kaum muslimin. Apalagi diakhir surat Al Kautsar ini Allah tegaskan, “Innasyaaniaka huwal abtar”. Artinya, apabila jalan shalat dan pengorbanan itu tidak ditempuh, disebabkan keengganan mengikuti sunnah Rasulullah saw berupa penunaian shalat dan kurban, maka ”al abtaru” keterputusan aliran rahmat Allah SWT telah menjadi ketetapan. Suatu gambaran masa depan yang suram, sebab tanpa rahmat Allah maka kegelapan lahir batin telah menanti. Kegelapan dalam kehidupan individu bahkan kegelapan kehidupan bersosial menjadi tak dapat dihindari. Wal’iyaadzubillah..

Maka, Dalam konteks inilah kita memahami ancaman Rasulullah SAW terhadap orang yang enggan berkurban, “ Barangsiapa mendapat keleluasaan (dalam rezeki) untuk berkurban kemudian tidak melakukannya, maka janganlah ia mendatangi musholaku.” (Riwayat Thabrani)

Ma’asyiralmuslimin jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah..
Jika berkurban dengan udlhiyah atau hewan kurban adalah bentuk fisik dari ibadah kurban, dan menjadi salah satu diantara sekian banyak syiar-syiar Allah, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya”. (Al-Hajj: 30). Maka sesungguhnya ada bentuk lain dari ibadah kurban yang tidak kalah penting dari bentuk fisiknya yaitu merealisasikan maqhasid syariah ( target-target syar’i yang terkandung) ibadah kurban. Atau dengan kata lain kita sebut sebagai hikmah berkurban. Maqashid syariah dari kurban ini tentu sangat banyak dan tidak bisa dibatasi. Namun pada kesempatan berbahagia ini, tanpa bermaksud membatasi, khatib mencoba untuk memaparkan sebagiannya. Sehingga kita bisa katakan bahwa kurban bukan sekedar ritual tahunan melainkan sesuatu yang menjadi sarana efektif untuk memberdayakan dan mengembangkan potensi-potensi umat. Banyak potensi yang bisa dikembangkan dan dioptimalkan melalui momentum kurban, diantranya;

Pertama, potensi sosial

Betapapun kita ini adalah zone politicon, makhluk sosial yang pasti satu sama lain saling terkait dan saling membutuhkan. Maka dalam konteks bersosial dan bermasyarakat, kurban menjadi spirit bagi terciptanya bangunan sosial yang harmonis, tempat subur untuk saling berbagi, tolong menolong, bahu-membahu dan saling memperhatikan. Jauh dari nuansa dan tradisi-tardisi ke akuan, sikap egois, yang hanya melihat kepentingan orang lain dari kepentingan dirinya sendiri. Oleh karena itu dahulu Rasulullah saw pernah melarang para sahabatnya menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari. Mengingat masyarakat ketika itu sedang dilanda oleh permasalahan pangan yang serius sehingga sangat tidak etis dan disaat sebagian unsur masyarakat paceklik dan kelaparan yang lain justru berpoya-poya dan beerpestapora. Namun dalam kondisi normal, Rasul malah berpesan, ” Makanlah dan bagikanlah oleh kalian dagingnya dan simpanlah-sebagiannya-.” Sebuah isyarat betapa kurba memiliki dimensi dan pesan sosial yang sangat tinggi.

Kedua, Potensi Moral
Adalah sesuatu yang mustahil akan terwujudnya bangunan masyarakat yang harmonis, kokoh dan saling menopang jika tidak dihiasi oleh komitmen moral dan akhlak islami dari individu-individunya. Masyarakat yang didalamnya masih dihiasi oleh sifat-sifat -mohon maaf- kebinatangan seperti kikir, rakus, pemalas, egois, tidak bertanggungjawab, dll, niscaya akan sangat sulit tampil menjadi masyarakat yang harmonis dan solid. Bahkan dalam lingkup keluarga sekalipun. Sulit untuk bisa menciptakan keluarga sakinah, mawaddah warahmah, jika individu-individu yang hidup didalamnya masih menonjolkan sifat dan perangai buruknya. Yang ada justru peluang terjadinya gejolak sosial yang tinggi, potensi pertengkaran, tawuran, saling menghasut, saling mendzolimi, saling menghina dan mencelakakan. Maka kurban menjadi simbol dan spirit, agar penyakit-penyakit tercela semacam itu tidak dibiarkan membudaya dimasyarakat kita, harus dijauhkan, dan bahkan –dalam konteks berkurban- disembelih. Sungguh Rasululah saw diutus untuk menyempurnakan perangai dan budi pekerti umat manusia.” Tiada lain aku diutus kecuali untuk menyempurnakan budi pekerti.”

Ketiga, potensi Ekonomi
Salah satu peluang terjerumus kedalam kekafiran dan kegelapan jahiliyah adalah celah-celah kemiskinan dan kefakiran. Lemah secara ekonomi. Rasul mengatakan “Kaadal faqru an yakuuna kufroo”, kefakiran itu berpotensi menjerumuskan seseorang pada kekafiran (baik amali atau i’tiqodi). Artinya, mungkin saja seseorang tidak kafir dalam artian berpindah agama. Tapi karena keterdesakan ekonomi, kemudian menjadi gelap mata mengorbankan hal-hal prinsip dan mendasar yang seharusnya dipegang teguh hanya demi mengais rezeki, lalu dia lupa kepada Allah, lupa kepada batasan-batasan syariat yang tidak boleh dilanggar, bahkan lebih jauh lagi lupa kepada adzab Allah yang pedih. Wal‘iyadzubillah.

Dan ibadah kurban menjadi potensi besar yang dapat menggerakkan dan memberdayakan sendi-sendi perekonomian umat, mulai dari budi daya peternakan hewan, bisnis hewan, sampai industri manufaktur pengolahan daging menjadi kornet dan produk lainnya. Tentu saja hanya akan terwujud jika peluang dan potensi ini dimanfaatkan dan dikelola dengan baik. Karena sampai saat ini nampaknya umat masih perlu belajar lebih optimal lagi untuk memberdayakan dan memanfaatkan potensi-potensi ekonominya.
Sebagai gambaran kecil, untuk kebutuhan kurban tahun ini saja, provinsi Banten membutuhkan 48.247 ekor hewan kurban. Dari 100% kebutuhan tersebut, Banten hanya mampu memenuhi 40% saja, sisanya harus dipasok dari luar Banten. Padahal, di Banten ini lahan masih sangat luas, sumber daya manusia juga banyak, sektor industri (khusus untuk pengolahan daging kurban) harusnya sudah berjalan. Tapi nyatanya prosentase kemiskinan di Banten masih cukup tinggi, angka penganggurannya pun termasuk tinggi. Padahal notabene mayoritas fuqoro dan masakin tersebut adalah kaum muslimin.

Keempat, potensi keimanan
Tidak bisa dipungkiri, semangat kurban yang dibawa oleh Khalilullah Ibrahim Alaihis Salam sudah seharusnya menjadi titik tolak, momentum yang tepat untuk mengokohkan kembali keimanan didalam dada kaum muslimin dimanapun berada. Menyesap kedalam jiwa betapa mendesaknya keimanan yang kuat menjadi sendi dan dasar dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sudah menjadi rahasia umum keimanan yang kuat tidak mungkin terwujud tanpa kesadaran penuh dalam diri untuk berlari menuju keridhoan Allah, melampaui ujian-ujian kehidupan yang sesungguhnya adalah cara Allah mendidik kita untuk menjadi pribadi yang besar. Maka momentun kurban ini marilah kita jadikan kesempatan meningkatkan kualitas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Berusaha istiqomah pada nilai-nilai kebenaran sejati yang mendekatkan kita pada cinta dan keridhoan Allah sebagaimana cinta Ibrahim yang bahkan rela mengorbankan buah hatinya sebagai bukti bahwa cinta Illahi adalah yang pertama dan utama di atas segalanya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah bersama-sama kita teguhkan hati untuk tidak pernah bosan merawat taman iman didalam jiwa, menyiramnya dengan tunduk pada ketentuan Allah, dan mencabut berbagai parasit yang mengganggu keindahannya.
Mari kita kokohkan diri dan memupuknya dengan spirit berkurban. Kita tata bangunan masyarakat kita dengan mengaplikasikan hikmah-hikmah kurban. Agar umat ini kembali pada jatidiri dan kejayaannya. Agar bumi ini terwarisi secara utuh dan dikendalikan oleh orang-orang yang sholeh. Yang selalu mendamba dan merindukan ridlo dan maghfiroh-Nya.
Read more

0 Download E-Book

Read more

0 Imam Bukhari


Imam Bukhari, bernama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari. Imam Bukhari dilahirkan pada malam Jum'at tanggal 13 Syawwal 194 H/810 M di Bukhara, sebuah kota di Uzbekistan, bekas wilayah Uni Soviet.

Ayahnya bernama Ismail bin Ibrahim, salah seorang ulama hadis ternama pada masanya. Ia belajar hadis dari Hammad bin Zayd dan Imam Malik. Riwayat hidupnya ditulis Ibnu Hibban dalam kitab al-Tsiqah. Demikian juga dengan Imam Bukhari, menulis riwayat hidup ayahnya dalam kitab al- Tarikh al-Kabir. Ayahnya adalah seorang yang alim, wara’ dan taqwa. Bahkan menjelang wafat, ia sempat menjelaskan, hartanya tidak terdapat uang haram atau syubhat sedikitpun.

Sejak kecil Imam Bukhari telah mencurahkan perhatiannya mempelajari hadis dan ilmu hadis. Pada usia 10 tahun, Bukhari sudah banyak menghafal hadis. Bukhar dikenal rajin, tekun dan juga sangat cerdas. Sehingga tidak mengherankan, sebelum usia 16 tahun Bukhari berhasil menghafal dua buah kitab hadis secara utuh karya Imam Ibnu al-Mubarak dan kitab Imam Waki'.

Bukhari juga tidak hanya menghafalkan matan hadis dan kitab-kitab ulama terdahulu, namun Bukhari juga mengenal secara rinci biografi para perawi hadis, lengkap dengan data tanggal lahir, tahun wafat dan tempat lahir mereka.

Tahun 210 H, saat genap berusia 16 tahun, Bukhari bersama ibu dan saudaranya pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. selain untuk menunaikan ibadah haji, Bukhari juga menetap di Hijaz, Mekkah selama 6 tahun. Di kota itulah dia menempa diri untuk mereguk ilmu yang diinginkan. Kadangkala dia pergi ke Madinah. Di kedua kota suci itulah Imam Bukhari menulis sebagian karyanya dan menyusun dasar-dasar al-Jami’ al-Sahih.

Beliau menulis al-Tarikh al-Kabir di sisi makam Rasulullah saw dan sering menulis pada malam hari di bawah terang bulan. Dan menulis tiga kitab, al-Tarikh al-Sagir (yang kecil), al-Awsat (yang sedang) dan al-Kabir (yang besar). Ketiga buku itu menunjukkan kemampuannya yang luar biasa mengenai Rijal al-Hadis.

Selain singgah ke Makkah dan Madinah, Bukhari juga berkunjung ke Maru, Naisabur, Ra'y, Baghdad, Bashrah, Kufah, Mesir, Damaskus dan 'Asqalan. Dari kota dan negeri Islam ini, Bukhari tercatat pernah meriwayatkan hadis dari ulama penghafal hadis, diantaranya, Makki bin Ibrahim al-Balakhi, 'Abd bin Usman al-Marwazi, Abdullah bin Musa al-Qaisi, Abu 'Ashim al-Syaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Abu Nu'aim al-Fadhl bin Dikkin, Ali bin al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in Ismail bin Idris al-Madani, Ibnu Rahawaih dan lain-lain.

Ada hal menarik ketika di Baghdad. Bukhari pernah diuji 10 pakar ilmu hadis. Para ulama ini sengaja melakukanya untuk mengetahui kemampuan Imam Bukhari dalam ilmu hadis. Dari 10 ulama ini, setiap orang membacakan sepuluh hadis kepada Bukhari. Para penguji mengganti atau membalik isnad dan matan hadis serta menempatkannya secara acak. Satu persatu dari 10 ulama hadis ini menanyakan 10 hadis yang telah mereka persiapkan. Imam Bukhari dengan sangat tenang memaparkan, mengurutkan hadits-hadits yang diacak pada susunan yang semestinya.

Karena kemapuan dan kecerdasannya, tidak sedikit Bukhari mendapat pujian dari ulama, rekan, maupun generasi sesudahnya. Imam Abu Hatim al-Razi misalnya, berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang yang melebihi Bukhari. Di Irak pun tidak ada yang melebihi darinya." Demikina juga dengan Imam Muslim pernah mencium di antara kedua mata Imam Bukhari seraya berkata: “Guru, biarkan aku mencium kedua kakimu. Engkaulah Imam ahli hadis dan dokter penyakit hadis.”

Termasuk generasi sesudah Imam Bukhari, Ibnu Hajar al-Asqalani pernah berujar: “Seandainya pintu pujian dan sanjungan masih terbuka bagi generasi sesudahnya, niscaya kertas dan nafas akan habis. Karena ia (Imam Bukhari) bagaikan laut yang tak berpantai.”

Menurut Imam Ibnu Ishaq bin Rawahaih, salah seorang guru Bukhari mengatakan: "Seandainya Imam Bukhari hidup pada masa al-Hasan, pasti akan banyak orang yang membutuhkannya dalam ilmu hadis serta mengetahui kealiman dan kefaqihannya." Imam Abu Nu'aim dan Ahmad bin Hammad berkata: "Imam Bukhari adalah orang yang paling faqih dari umat ini."

Melihat kepakaran Imam Bukhari dari kegighannya mendalami hadits, sedertet nama besar para pakar hadits pernah ia kunjungi untuk belajar. “Aku menulis hadits dari 1.080 guru, yang semuanya adalah ahli hadis yang berpendirian bahwa iman itu adalah ucapan dan perbuatan.”

Di antara para guru itu adalah Ali bin al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Maki bin Ibrahim al-Balkhi, Abdullah bin Usman al-Marwazi, Abdullah bin Musa al-'Abbasi, Abu 'Asim al-Syaibani, Muhammad bin Abdullah al-Anshari, Muhammad bin Yusuf al-Baykandi dan Ibnu Rahawaih. Jumlah guru yang hadisnya diriwayatkan dalam kitab sahihnya sebanyak 289 guru. Hal ini dapat kita peroleh dari jumlah guru beliau yang riwayatnya terdapat dalam Shahih Bukhari. (Muhammad Muhammad Abu Syuhbah:314-315).

Selain memiliki sekian banyak guru, Imam Bukhari juga meninggalkan sederet murid-murid yang juga pakar di bidang hadits. Diantara murid-muridnya, yang paling terkenal adalah Imam Muslim bin Hajjaj, Imam al-Tirmizi, Imam Abu Zur'ah, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Dawud, Imam al-Nasa'I, Imam Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, Ibrahim bin Mi’yal al-Nasafi, Hammad bin Syakir al-Nasawi dan Mansur bin Muhammad al-Bazdawi.

Di sisi lain, Imam Bukhari tidak hanya sekadar pakar dalam bidang hadis tapi juga seorang yang pakar di bidang fiqih, sejarah maupun dalam cabang ilmu keislaman lainnya. Termasuk yang jarang diungkap, Imam Bukhari termasuk pemanah ulung. Pada sebuah riwayat, Imam Bukhari sepanjang hidupnya hanya dua kali mata panahnya meleset dari sasaran.

Pakar hadits kharismatik ini wafat hari Sabtu malam 1 Syawwal 256 H pada usia 62 tahun 13 hari di Khartank, sebuah kampung yang tidak jauh dari kota Samarkand. Sebelum wafat, Imam Bukhari berpesan agar jenazahnya dikafani tiga helai kain, tanpa baju dan sorban. Jenazahnya dimakamkan setelah shalat Zuhur, bertepatan dengan perayan kemenangan kaum Muslimin di Idul Fitri saat itu.

Karya-karya Imam Bukhari
Sebagai salah seorng ulama yang produktif menulis, Imam Bukhari telah menyumbangkan sejumlah karya kepada umat Islam, diantaranya:
1)al-Tarikh al-Shagir
2)al-Tarikh al-Awsath
3)al-Dhu'afa
4)Kitab al-Kuna
5)al-Adab al-Mufrad
6)al-Jami' al-Shahih (yang kemudian dikenal dengan Shahih al-Bukhari)
7)Raf'u al-Yadain fi al-Shalat
8)Khair al-Kalam fi al-Qira'at Khalfa al-Imam
9)al-Asyribah
10)Asami al-Sahabah
11)Birr al-Walidain
12)Khalq Af'al al-'Ibad
13)al-'Ilal fi al-Hadis
14)al-Musnad al-Kabir
15)al-Wihdan
16)al-Mabsuth
17)al-Hibah
18)al-Fawaid
19)Qadhaya al-Sahabat wa al-Tabi'in
20)al-Tafsir al-Kabir (Tarikh Ibnu Katsir:juz 11:24), (Ibnu Hajar al-Asqallani:juz 2:193), (M. Abu Zahu:356).

Sumber http://1001tokohislam.blogspot.com/
Read more

0 Memeluk Islam, Gadis Yahudi itu Kini Berjilbab


KNRP - Koran Spanyol El Mundo melaporkan pada hari Kamis (19/11) bahwa seorang gadis Yahudi (19 tahun) dari kota Karmiel di utara Israel mengumumkan masuk Islam atas keyakinannya dan telah mengenakan jilbab.

Koran El Mundo mengutip wanita muda yang bernama Maru Davidiopi itu, yang mengatakan, "Saya harus mengakui bahwa apa yang telah saya lakukan ini akan memicu rasa sakit dan kemarahan dari orang-orang Yahudi." Demikian seperti disitat situs mafkarah islam.

Maru menambahkan, "Saya lahir sebagai seorang Yahudi dan nenek moyang saya tewas dalam Holocaust, dan banyak orang menganggap saya sebagai pengkhianat dan mereka percaya bahwa yang telah saya lakukan ini sesuatu yang gila, sementara beberapa yang lainnya bertanya-tanya bagaimana saya melakukan itu lalu saya menyerah untuk menjadi seorang Yahudi dan melupakan leluhur dan apa yang terjadi dengan mereka."

Koran itu menyebutkan, Maru sekarang mempraktekkan ritual Islam dan meninggalkan Yudaisme sepenuhnya. Sekarang ia menutupi kepalanya dengn jilbab dan membaca Alquran, dan perubahan itu seperti gempa bumi saja bagi keluarga besarnya, padahal sang ayah merupakan pendukung sayap kanan Israel yang ide-idenya anti Arab.

Terkait keislamannya, Maru menjelaskan, "Saya menjadi tertarik dengan Al-Qur'an dan saya pada umur 13. Ada banyak pertanyaan yang saya cari jawabannya yang saya tidak menemukan jawaban itu dalam agama saya, lalu untuk pertama kalinya saya pergi ke masjid dan ketika saya meninggalkan masjid, saya rasakan hati saya ini bersih dan jernih. Saya merasa sangat nyaman, saya menemukan semua jawaban yang saya ingin mendapatkannya dalam Islam."

Dia menambahkan, "Ibu saya frustrasi dan saya berupaya untuk memahami situasi ini, dan perasaan mereka ihwal pengkhianatan itu adalah normal, walaupun demikian saya tidak akan pernah meninggalkan orang tua saya, dan yang terbaik adalah beradaptasi dengan situasi baru ini, dan memahami apa yang telah saya lakukan."

Maru sendiri telah berusaha untuk meyakinkan orangtuanya agar memeluk Islam, tetapi ibunya menilai dirinya merasa puas sebagai seorang pemeluk Yahudi dan tidak ingin mengubah agamanya.(milyas/im)
http://www.knrp.or.id/berita/aktual/memeluk-islam-gadis-yahudi-itu-kini-berjilbab.htm
Read more

0 KEUTAMAAN SEPULUH HARI (PERTAMA) BULAN DZULHIJJAH Dan Beberapa Masalah Terkait


Dari Ibnu Abbas radiallahuanhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ، الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ يَعْنِي: أَيَّامُ الْعَشْرِ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ ؟ قَالَ: "وَلاَ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ [رواه البخاري]

Tidak ada hari-hari yang amal shaleh didalamnya lebih Allah cintai kecuali pada hari ini”, yaitu: sepuluh hari bulan Dzulhijjah, mereka berkata: “Apakah jihad fisabilillah tidak lebih utama dari itu ?”, beliau bersabda: “Tidak juga jihad, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan jiwanya dan hartanya dan tidak ada yang kembali satupun (Riwayat Bukhari)
Read more
 
Powered by Blogger