0 Beasiswa Al-Azhar Mesir tahun 2009

Pengalaman mengikuti Konfrensi Pers Bersama Duta Besar Republik Arab Mesir Ahmed M. ElKewaisny Di Jakarta Selasa 28 April 2008 Pk 12.00 sd 13.20
Bismillahirrahmanirrahim.
Berdasarkan undangan Duta Besar, Alhamdulillah, saya dapat mengikuti konfrensi pers yang banyak ditunggu kalangan pelajar khususnya Pondok Pesantren di Indonesia. Berikut cuplikannya, semoga informasi dapat bermanfaat. Duta Besar Republik Arab Mesir Ahmed M. ElKewaisny memberikan keterangan pers berkenaan dengan penyaluran Beasiswa Al Azhar untuk pelajar di Indonesia sbb :
Read more

0 Info Beasiswa Pendidikan

Beasiswa Program s3 (Ph.D)

Germany
Economic Sociology
& Political Economy (7 positions): Klik Disini
Cell & Systems Biology (5 positions): Klik Disini
Read more

0 Imam Muslim

Imam Muhadits Muhsin dari Naisabur
Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Imam Muslim dilahirkan di Naisabur tahun 202 H atau 817 M. Naisabur, saat ini termasuk wilayah Rusia. Dalam sejarah Islam, Naisabur dikenal dengan sebutan Maa Wara'a an Nahr, daerah-daerah yang terletak di belakang Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah.
Naisabur pernah menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan tidak kurang 150 tahun pada masa Dinasti Samanid. Tidak hanya sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, kota Naisabur juga dikenal saat itu sebagai salah satu kota ilmu, bermukimnya ulama besar dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Kecenderungan Imam Muslim kepada ilmu hadits tergolong luar biasa. Keunggulannya dari sisi kecerdasan dan ketajaman hafalan, ia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Di usia 10 tahun, Muslim kecil sering datang berguru pada Imam Ad Dakhili, seorang ahli hadits di kotanya. Setahun kemudian, Muslim mulai menghafal hadits dan berani mengoreksi kekeliruan gurunya ketika salah dalam periwayatan hadits. Seperti orang yang haus, kecintaanya dengan hadits menuntun Muslim bertuangalang ke berbagai tempat dan negara. Safar ke negeri lain menjadi kegiatan rutin bagi Muslim untuk mendapatkan silsilah yang benar sebuah hadits. Dalam berbagai sumber, Muslim tercatat pernah ke Khurasan. Di kota ini Muslim bertemu dan berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih. Di Ray ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Pada rihlahnya ke Makkah untuk menunaikan haji 220 H, Muslim bertemu dengan Qa’nabi,- muhaddits kota ini- untuk belajar hadits padanya. Selain itu Muslim juga menyempatkan diri ke Hijaz. di kota Hijaz ia belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar. Di Irak Muslim belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah. Kemudian di Mesir, Muslim berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya. Termasuk ke Syam, Muslim banyak belajar pada ulama hadits kota itu. Tidak seperti kota-kota lainnya, bagi Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah Imam Muhaddits ini berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama ahli hadits. Terakhir Imam Muslim berkunjung pada 259 H. Saat itu, Imam Bukhari berkunjung ke Naisabur. Oleh Imam Muslim kesempatan ini digunakannya untuk berdiskusi sekaligus berguru pada Imam Bukhari. Berkat kegigihan dan kecintaannya pada hadits, Imam Muslim tercatat sebagai orang yang dikenal telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, menyebutkan, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, lanjutnya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sedang menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang ditulis dalam Shahih Muslim merupakan hasil saringan sekitar 300.000 hadits. Untuk menyelasekaikan kitab Sahihnya, Muslim membutuhkan tidak kurang dari 15 tahun. Imam Muslim dalam menetapkan kesahihan hadits yang diriwayatkkanya selalu mengedepankan ilmu jarh dan ta'dil. Metode ini ia gunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Selain itu, Imam Muslim juga menggunakan metode sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat). Dalam kitabnya, dijumpai istilah haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarani (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), maupun qaalaa (ia berkata). Dengan metode ini menjadikan Imam Muslim sebagai orang kedua terbaik dalam masalah hadits dan seluk beluknya setelah Imam Bukhari. Selain itu, Imam Muslim dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah. Keramahan yang dimilikinya tidak jauh beda dengan gurunya, Imam Bukhari. Dengan reputasi ini Imam Muslim oleh Adz-Dzahabi disebutan sebagai Muhsin min Naisabur (orang baik dari Naisabur). Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsiqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada dengan Maslamah bin Qasim, Imam An-Nawawi juga memberi sanjungan: "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits." Seperti halnya Imam Buhari dengan Al-Jami' ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari, Imam Muslim juga memiliki kitab munumental, kitab Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih karya Imam Muslim lainnya, Shahih Muslim yang memuat 3.033 hadits memiliki karakteristik tersendiri. Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada penjabaran hadits secara resmi. Imam Muslim bahkan tidak mencantumkan judul-judul pada setiap akhir dari sebuah pokok bahasan. Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis. Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Perbedaan ini terjadi bila dilihat dari sisi pada sistematika penulisannya serta perbandingan antara tema dan isinya. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an agar dapat dipastikan sanadnya bersambung. Sementara Imam Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi dengan tidak adanya tadlis. Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsiqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Selain itu, kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding al-Bukhari. Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan, seperti yang dijelaskan Ibnu Hajar, Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya. Muslim juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab seperti yang dilakukan Bukhari lakukan. Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H dengan mewariskan sejumlah karyanya yang sangat berharga bagi kaum Muslim dan dunia Islam. Karya-karya Imam Muslim Sepanjang hidup Imam Muslim, karya-karya yang berhasil ia tulis antara lain: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.

(Azhar Suhaimi, S.Ag)
Read more

0 Akhir Desember Ratusan Aktifis Eropa Tiba di Gaza


KNRP - Jalur Gaza selama bulan Desember dan Januari mendatang akan menerima delegasi parlemen, masyarakat Eropa, dan konvoi bantuan kemanusiaan ke-3 yang digagas oleh anggota parlemen Inggris George Galloway, dalam upaya untuk memecahkan isolasi Israel atas Jalur Gaza sejak Juni 2007.

Dalam siaran persnya pada Sabtu (5/12), Hamdi Shaath, Ketua Komisi Pemerintah untuk Memecahkan Blokade dan Penerima Delegasi di Gaza, mengatakan, "Beberapa delegasi solidaritas internasional dari Perancis, Britania dan negara-negara Eropa lainnya akan tiba ke Jalur Gaza melalui penyeberangan Rafah (perbatasan dengan Mesir) pada akhir bulan ini, seperti juga akan tiba delegasi yang terdiri dari 30 anggota parlemen Eropa pada pertengahan Januari tahun depan." Demikian seperti disitat islamonline, Sabtu (5/12).

Sementara Jamal al-Khudri, Ketua Komite Rakyat untuk Melawan Pengepungan atas Gaza, memberikan keterangan, "Delegasi Prancis akan datang ke Gaza yang terdiri dari sekitar 300 aktivis perdamaian yang akan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan anti-isolasi Zionis, demikian juga akan hadir delegasi Parlemen Inggris."

Terkait konvoi bantuan yang akan menuju ke Gaza, al-Khudari menjelaskan bahwa konvoi ‘Urat Nadi Kehidupan-3” yang dipimpin oleh Galloway, adalah konvoi yang sedang ditunggu-tunggu, yang akan bertolak dari London pada Ahad (6/12), yang akan membawa bantuan medis dan kemanusiaan kepada rakyat yang terkepung di Jalur Gaza. Konvoi itu sendiri dijadwalkan tiba di Gaza pada 27 Desember yang bertepatan dengan peringatan tahun pertama aneksasi Israel atas Gaza yang telah menewaskan lebih dari 1.400 warga Gaza.(milyas/iol)
Sumber: KNRP
Read more

0 Kita dan al-Qur`an (Mengukur Kesetiaan)

mencintai al Qura'an
“Bacalah, lalu naiklah ke syurga, dan baca lagi dengan ‘tartiil’ seperti yang engkau lakukan selama di dunia! Sungguh, tingkat kedudukanmu di syurga berdasarkan kali ayat terakhir yang engkau baca ” (Al Hadits)

Ibnul Qoyyim merinci bentuk-bentuk sikap, tindakan dan perbuatan meninggalkan al-Qur`an (hajrul Quran). Macam-macam ekspresi orang yang enggan hidup dibawah petunjuk al-Qur`an. Tidak mau menikmati pancaran cahaya al-Qur`an. Tidak suka berinteraksi dengan al-Qur`an. Semoga kita dilindungi Allah dari sikap-sikap ini.


1. Enggan mendengarkan ayat-ayat al-Qur`an. Tidak mau mengimani, meyakini dan percaya dengan al-Qur`an. Tidak ada keinginan fokus menyimak firman ayat-ayat Allah.
2. Enggan mengamalkan al-Qur`an. Tidak mau komitmen dengan apa yang halal dan haram di dalam al-Qur`an. Walaupun ia membaca dan mengimani ayat-ayat al-Qur`an.
3. Enggan menjadikan al-Qur`an sebagai imam dalam kehidupannya. Sebagai dustrul hayaat. Sebagai sumber hukum dan aturan. Sebagai pedoman dan arah hidupnya baik dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya. Bahkan-parahnya- ia percaya bahwa meyakini al-Qur`an tidak memberi faedah dan pengaruh. Bahwa ayat-ayatnya hanyalah bentuk lafaz belaka yang tidak mengandung ilmu.
4. Enggan tadabbur; merenungi dan mendalami al-Qur`an. Tidak terdorong memahami kandungannya. Tidak tergerak menyingkap makna dan petunjuk di dalamnya sesuai dengan apa yang dikehendaki Sang Khalik.
5. Enggan mencari obat dan penawar dari al-Qur`an dalam rangka menangkal dan melenyapkan penyakit-penyakit hati.

Semua sikap dan tindakan ini tergolong orang-orang yang ‘meninggalkan’ al-Qur`an. 

Wujud Kesetiaan Kita Terhadap Al-Qur'an

Dalam keseharian biasa disebut wirid. Yaitu sejenis komitmen yang terus dijaga dalam amal keseharian. Hanya saja kebanyakan kita sering terjebak dalam wirid yang sedemikian sempit. Wirid hanya pada membaca saja. Padahal wirid yang sesungguhnya memiliki dimensi yang luas. Cakupannya menyeluruh. Sebagai contoh adalah seperti yang diceritakan ibunda Hasan al Bashri:
“Beliau itu ketika membuka mushaf (al-Qur`an), Nampak matanya basah-berlinang namun bibir dan mulutnya tidak bergerak..”

Ini menandakan bahwa bentuk mu’amalah dengan al-Qur`an tidak terhimpit dalam membaca saja. Bukan hanya tilawah saja. Namun ini sekali lagi bukan sebagai pembenaran apalagi pendorong kita sama sekali tidak memiliki wirid tilawah. Setidaknya ada wirid al-Qur`an yang sesungguhnya. Wirid yang utuh dan menyeluruh.

1. Wirid Tilawah

“Kalau hati ini dalam kondisi bersih, tidak akan pernah kenyang membaca al-Qur`an” (Usman Bin Affan) “Banyak diantara para pembaca al-Qur`an, dimana ia dilaknat oleh al-Qur`an” (Anas Bin Malik) “Jangan sampai keinginan kita dalam tilawah terus mencapai target akhir surat(Ibnu Mas’ud). Kita tilawah tapi tetap mengusahakan hati dan fikiran tadabbur, menghayati, memahami dan meresapi makna-makna yang dibaca semampu kita.

2. Wirid Melihat


“Berilah mata-mata kalian itu kesempatan beribadah!”, kata Rasululloh, lalu sahabat bertanya, “bagamana caranya?”, Rasulullah menjawab, “Ibadah mata itu melihat mushaf (kitab suci al-Qur`an), merenungi dan mengambil ibrah dari keajaiban-kejaiban yang ada di dalamnya ” (HR. al Baihaki). “Teruslah engkau melihat dan memandangal-Qur`an” (Ibnu Mas’ud). Ibadah satu ini membantu kita terus terhubung dan terkait dengan al-Qur`an.

3. Wirid Mendengar


Rasulullah Saw. sangat senang mendengar dan menyimak bacaan al-Qur`an, “..dan aku suka mendengar al-Qur`an dari orang lain”. Para sahabat itu ketika mendengar ayat-ayat, “berlinangan air mata dan merinding kulit-kulit tubuh mereka”. Belum lagi pernyataan Allah tentang indikasi keimanan yang sesungguhnya dalam surat al-Anfal ayat 2. Adakah iman kita menebal saat mendengar al-Qur`an?

4. Wirid Menghafal

“Kita terbiasa menghafal al-Qur`an sampai 10 ayat saja, dan tidak menambah hafalan sampai 10 ayat ini kita amalkan” (Umar Bin Khathab). Ulama salaf bertanya kepada muridnya, “Anda menghafal al-Qur`an,” dijawabnya, “Tidak.” Kata sang ulama, “Seorang mukmin yang tidak menghafal al-Qur`an, bagaimana ia menikmati hidup, apa yang ia senandungkan, dengan apa ia bermunajat kepada Robb nya.”


5. Wirid Tadabbur

Bagaimana kita dihadapkan dengan pesan QS Shad:29. Juga QS Muhamad:24. Sifat dari tadabbur itu kata Imam Syuyuthi, “Menyibukkan dan memfungsikan hati untuk fokus merenungi, memahami dan meresapi kandungan setiap ayat yang dibaca, lalu memperhatikan apa yang diperintah dan dilarang untuk dilaksanakan”.


6. Wirid Mengamalkan

Sungguh ini diantara wirid yang terberat. Usaha menghidupkan dalam amal nyata. Dalam hati dan fikiran. Dalam kehidupan kita. Diantara gambaran sang pengamal al-Qur`an (shohibul Qur`an) seperti dipaparkan Ibnu Mas’ud, “ia itu dikenal sewaktu malam (dengan Qiyam Lail) dimana manusia banyak tertidur, ia dikenal sewaktu siang (dengan puasa) dimana manusia banyak makan dan minum, ia dikenal dengan tangisan dan air mata disaat manusia tenggelam dalam gelak tawa dan kelalaian, ia dikenal dengan sikap wara’ nya (penuh kehati-hatian) disaat manusia campur aduk tanpa pikir panjang dalam berbuat. Ia dikenal dengan diam dan sahajanya disaat orang lain sedang asyik terbuai dalam canda dan kesia-siaan, ia dikenal dengan ketundukkan dan kerendahan hatinya (kepada Allah) disaat orang lain terjerat keangkuhan tanpa kendali. Ia dikenal sedih dan rasa khawatirnya disaat orang lain dalam arus kesenangan tak terkontrol.”
Ya, shohibul Qur`an memang tampil beda. Yang membedakannya dengan kebanyakan orang bukan pada suaranya, tapi pada kenyataan hidupnya. Pada kesehariannya. Pada tindakan, sikap dan perbuatannya. Pada keindahan akhlaknya. Seperti yang diungkapkan Ibnu Mas’ud.

7. Wirid Mendakwahkan Al-Qur'an

Ini adalah bagian dari buah keberkahan al-Qur`an. “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur`an dan mengajarkannya”, kata Rasulullah Saw. Kita ajak sebanyak-banyak orang lain untuk mencintai al-Qur`an. Untuk meyakini al-Qur`an sebagai dusturul hayaat. Untuk merasakan indahnya hidup di bawah keteduhan al-Qur`an.

Sarana Nyata Mewujudkan Kesetiaan

Pertama, paling sedikit kita tilawah 1 juz per hari. Di bulan Ramadan kondusif untuk diupayakan lebih dari itu. Apalagi saat-saat i'tikaf. Khusus 10 hari terakhir kita sangat mungkin khatam Al-Qur'an.

Kedua, kita coba awali hari dengan al-Qur`an. Sebelum beraktivitas lain, sudah selesai tugas tilawah dengan al-Qur`an. Sejak selesai solat Shubuh kita sudah basahi lidah bahkan hati dan pikiran kita dengan siraman ayat-ayat al-Qur`an . Lalu kita letakkan waktu tilawah ini menjadi pengiring di sebelum dan sesudah solat wajib. Insya Allah target 1 juz mudah terlampaui.

Ketiga, harus kita sediakan waktu untuk lebih erat bersentuhan dengan al-Qur`an. Yaitu tadabbur. Tadabbur dengan cara melihat kata demi kata di setiap ayat. Direnungi, dihayati dan disentuhkan dengan hati dan fikiran. Berharap ada tetes dua tetes air mata semoga semakin melembutkan dan membersihkan kalbu kita. Juga tadabbur dengan cara mendengar khusyuk lantunan ayat-ayat al-Qur`an di solat Taraweh dan Tahajud kita. Kita upayakan konsentrasi dan fokus menyimak dan menikmati bacaan imam. Bisa juga kita coba dengan mendengar tilawah dari kaset dan radio. Semua upaya dilakukan untuk mengamalkan tadabbur. Baik dengan melihat, membaca dan mendengar.

Keempat, jangan lewatkan maw’izhoh, nasehat, khutbah dan ceramah yang penuh dengan petunjuk al-Qur`an dan as Sunnah. Menjadi motivasi untuk semakin sering tadabbur dan semakin semangat menghidupkan al-Qur`an dalam amal kita.

Kelima, berdoa sungguh-sungguh semoga Allah memberi kemudahan untuk kita untuk setia dengan al-Qur`an. Memohon kekuatan mengamalkan dan mewujudkan al-Qur`an dalam kenyataan hidup. Meminta kepada Nya supaya digolongkan mereka yang dibimbing Nya melalui al-Qur`an. Berharap dihimpun bersama para pembawa al-Qur`an. Bersama para penghidup al-Qur`an. Bersama para ahlul al-Qur`an, ash haabul al-Qur`an, hamalatil al-Qur`an.

Pendukung dan penopang

- Secara maknawiy. Kita harus berusaha mengikhlaskan niat. Luruskan motivasi. Bersihkan keinginan. Sembari berupaya juga menghidupkan himmah ‘aaaliyah. Kemauan kuat dan kokoh. Tekad membaja. Dorongan dahsyat dari dalam diri kita setelah memohon kekuatan dari Allah Yang Maha Kuat nan Perkasa.
- Jangan kesibukan kita menghafal menghalangi tilawah. Ingat, “tilawah itu bahan bakar hafalan kita”
- Bagus juga jika kita memiliki rekan sevisi. Sahabat sefikroh. Teman yang mempunyai kesamaan sehingga dapat merancang sejenis perlombaan robbaniy.
- Pilihlah waktu, tempat dan keadaan yang sesuai untuk tilawah, atau hafalan, atau tadabbur. Masing-masing ada bagian.
- Mulai dari apa yang mampu kita lakukan, lalu berusaha konsisten, dan terus-menerus mendekat tataran ideal (Saddid wa Qoorib!).
- Ketika khatam al-Qur`an, maka kumpulkan semampunya teman atau anggota keluarga. Karena Khataman itu disaksikan. Bisa menjadi saksi kebaikan. Seperti sahabat Anas, diriwayatkan bahwa “beliau ini pada saat khatam al-Qur`an, dipanggilnya anak-anak dan anggota keluarganya, lalu diajaknya mereka ikut berdoa sama-sama.”


Wahai saudaraku..

al-Qur`an memanggil-manggil kalian di bulan Ramadan ini.. Ingat-ingat selalu adagium ini, “Sebesar kedekatanmu dengan al-Qur`an, sebesar itu pula kedekatan Allah denganmu. Sekencang usahamu menghadapkan hati, fikiran dan perasaanmu kepada al-Qur`an, sedemikian itu pula Allah akan menghadap dan menyambutmu. Semakin dirimu jauh dengan al-Qur`an, Allah pun akan menjauhimu”

Suhartono TB, Lc.Dipl


Dapatkan Mushaf Al Quran Berkualitas di www.toko.ufukislam.com
Read more

0 Kakek Berwajah Teduh


Seorang lelaki tua berwajah syahdu berjalan terseok membawa kopernya. Ia tertatih-tatih mengejar kereta api yang hendak bertolak. Kepanikan yang menyelimuti raut wajahnya tidak bisa ditutupi. Wajar, ia memang belum membooking kursi. Satu per satu gerbong kereta dihampiri. Hingga ia sampai di gerbong pertama. Di dalamnya penuh anak muda yang sedang riang-gembira bernyanyi bercampur gelak-tawa. Ia meminta izin kepada penumpang untuk sekiranya boleh singgah bersama mereka. Namun respon yang didapatkan,
“Kamu sudah kakek-kakek begini, maaf saja ya.. Kami tidak ingin kamu merusak suasana. Kami sudah asyik di gerbong ini bersenang-senang, mohon tidak diganggu.”
Sang kakek terus beralih ke gerbong selanjutnya. Begitu optimis ia mengetuk penumpang yang sedang khusyu membaca. Gerbong ini terisi anak muda yang serius belajar. Terlihat wajah-wajah kutu buku. Dengan santun, kakek meminta izin untuk duduk bersama mereka. Sayangnya, mereka menolak dengan alasan khawatir ia akan memecah konsentrasi selama di perjalanan. Mereka ingin fokus membaca dan belajar hingga sampai stasiun tujuan.
Koper besar yang dibawanya terus ditenteng. Masih ada waktu mencari. Walau 15 menit lagi, kereta jalan. Harapan masih ada. Ada dua gerbong tersisa belum dicoba. Tibalah ia tempat yang ditumpangi sekumpulan pebisnis. Para profesional. Ia amati wajah-wajah mereka sedemikian penat dan padat. Masing-masing begitu sibuk. Ada yang sedang hati-hati membuat perencanaan bisnis. Ada yang sedang cermat melakukan super visi dan evaluasi. Ada yang sedang teliti menghitung untung-rugi. Ada yang sedang serius bernegosiasi. Serentak mereka menyapa sang kakek,
“Maaf pak.. Kami tidak ada waktu untuk melayani.”
Akhirnya, sang kakek sampai di gerbong ke empat. Gerbong terakhir. Ia dapati didalamnya sebuah keluarga yang bersahaja. Aura kesalihan begitu nampak di wajah setiap anggotanya. Sebelum sang kakek mengucap, mereka terlebih dahulu menyapa hangat. Menyambut sepenuh hati. Menghidangkan minuman dan makanan. Tangis haru membasahi pipi sang kakek. Ia meminta bantuan untuk mengangkat dan membuka koper besar yang dibawanya. Setelah terbuka, mereka terkejut. Ada banyak emas, berlian dan permata bahkan uang bergepok-gepok. Sang kakek tersenyum tenang. Masing-masing anggota keluarga mendapat hadiah tak terduga darinya.
Setibanya distasiun akhir, mereka semakin terperanjat. Diluar kereta api telah bersiap-siap raja negeri beserta pengawalnya hendak menyambut salah satu penumpang. Ternyata penumpang istimewa itu adalah sang kakek berwajah teduh. Raja memerintahkan supaya segera diboyong ke istana. Sang kakek bersedia jika raja mengizinkannya mengikut sertakan keluarga berhati baik untuk bersamanya tinggal di istana. Raja menyetujui bahkan menyiapkan istana khusus untuk keluarga mulia ini sebagai balasan atas kemurahan hati dan kebaikan mereka terhadap sang kakek.
Penumpang di gerbong lain tertunduk sedih penuh penyesalan. Mereka meratapi kekerdilan jiwa hingga acuh dan tiada peduli terhadap sang kakek. Kini mereka hanya menggigit jari. Begitulah kisah sebagian kita bersama Ramadan. Semoga Ramadan kali ini memberi arti.
(Suhartono TB, Lc.Dipl)
Read more

0 Abul A’la Al Maududi


Biografi Abul A’la Al Maududi

Sayyid Abul A’la Maududi adalah figur penting dalam kebangkitan Islam pada dasawarsa terakhir. Ia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh muslim India Utara) di Aurangabad, India Selatan, tepatnya pada 25 September 1903 (3 Rajab 1321 H). Rasa dekat keluarga ini dengan warisan pemerintahan Muslim India dan kebenciannya terhadap Inggris, memainkan peranan sentral dalam membentuk pandangan Maududi di kemudian hari.

Ahmad Hasan, ayahnya Maududi, sangat menyukai tasawuf. Ia berhasil menciptakan kondisi yang sangat religius dan zuhud bagi pendidikan anak-anaknya. Ia berupaya membesarkan anak-anaknya dalam kultur syarif. Karenanya, sistem pendidikan yang ia terapkan cenderung klasik. Dalam sistem ini tidak ada pelajaran bahasa Inggris dan modern, yang ada hanya bahasa Arab, Persia, dan Urdu. Karena itu, Maududi jadi ahli bahasa Arab pada usia muda.

Pada usia sebelas tahun, Maududi masuk sekolah di Aurangabad. Di sini ia mendapatkan pelajaran modern. Namun, lima tahun kemudian ia terpaksa meninggalkan sekolah formalnya setelah ayahnya sakit keras dan kemudian wafat. Yang menarik, pada saat itu Maududi kurang menaruh minat pada soal-soal agama, ia hanya suka politik. Karenanya, Maududi tidak pernah mengakui dirinya sebagai ‘alim. Kebanyakan biografi Maududi hanya menyebut dirinya sebagai jurnalis yang belajar agama sendiri. Semangat nasionalisme Indianya tumbuh subur. Dalam beberapa esainya, ia memuji pimpinan Partai Kongres, khususnya Mahatma Gandhi dan Madan Muhan Malaviya.

Pada 1919 dia ke Jubalpur untuk bekerja di minggua partai pro Kongres yang bernama Taj. Di sini dia jadi sepenuhnya aktif dalam gerakan khilafah, serta aktif memobilisasi kaum muslim untuk mendukung Partai Kongres.

Kemudian Maududi kembali ke Delhi dan berkenalan dengan pemimpin penting Khilafah seperti Muhammad ‘Ali. Bersamanya, Maududi menerbitkan surat kabar nasionalis, Hamdard. Namun itu tidak lama. Selama itulah pandangan politik Maududi kian religius. Dia bergabung dengan Tahrik-I Hijrah (gerakan hijrah) yang mendorong kaum muslim India untuk meninggalkan India ke Afganistan yang dianggap sebagai Dar al-Islam (negeri Islam).

Pada 1921 Maududi berkenalan dengan pemimpin Jami’ati ‘Ulama Hind (masyarakat ulama India). Ulama jami’at yang terkesan dengan bakat maududi kemudian menarik Maududi sebagai editor surat kabar resmi mereka, Muslim. Hingga 1924 Maududi bekerja sebagai editor muslim. Disinilah Maududi menjadi lebih mengetahui kesadaran politik kaum muslimin dan jadi aktif dalam urusan agamanya. Namun, saat itu tulisan-tulisannya belum juga mengarah pada kebangkitan Islam.

Di Delhi, Maududi memiliki peluang untuk terus belajar dan menumbuhkan minat intelektualnya. Ia belajar bahasa Inggris dan membaca karya-karya Barat. Jami’at mendorongnya untuk mengenyam pendidikan formal agama. Dia memulai dars-I nizami, sebuah silabus pendidikan agama yang populer di sekolah agama Asia Selatan sejak abad ke delapan belas. Pada 1926, ia menerima sertifikat pendidikan agama dan jadi ulama.

Runtuhnya khilafah pada 1924 mengakibatkan kehidupan Maududi mengalami perubahan besar. Dia jadi sinis terhadap nasionalisme yang ia yakini hanya menyesatkan orang Turki dan Mesir, dan menyebabkan mereka merongrong kesatuan muslim dengan cara menolak imperium ‘Utsmaniah dan kekhalifahan muslim. Dia juga tak lagi percaya pada nasionalisme India. Dia beranggapan bahwa Partai Kongres hanya mengutamakan kepentingan Hindu dengan kedok sentimen nasionalis. Dia ungkapkan ketidaksukaannya pada nasionalisme dan sekutu muslimnya.

Sejak itu, sebagai upaya menentang imperialisme, Maududi menganjurkan aksi Islami, bukan nasionalis. Ia percaya aksi yang ia anjurkan akan melindungi kepentingan muslimin. Hal ini memberi tempat bagi wacana kebangkitan.

Pada 1925, seorang Muslim membunuh Swami Shradhnand, pemimpin kebangkitan Hindu. Swami memancing kemarahan kaum muslimin karena dengan erang-terangan meremehkan keyakinan kaum muslimin. Kematiannya Swami menimbulkan kritik media massa bahwa Islam adalah agama kekerasan. Maududi pun bertindak. Ia menulis bukunya yang terkenal mengenai perang dan damai, kekerasan dan jihad dalam Islam, Al Jihad fi Al Islam. Buku ini berisi penjelasan sistematis sikap Muslim mengenai jihad, sekaligus sebagai tanggapan atas kritik terhadap Islam. Buku ini mendapat sambutan hangat dari kaum muslimin. Hal ini semakin menegaskan Maududi sebagai intelektual umat.

Sisa terakhir pemerintahan muslim pada saat itu kelihatan semakin tidak pasti. Maududi pun berupaya mencari faktor penyebab semakin pudarnya kekuasaan muslim. Dia berkesimpulan, selama berabad-abad Islam telah dirusak oleh masuknya adat istiadat lokal dan masuknya kultur asing yang mengaburkan ajaran sejatinya. Karenanya Maududi mengusulkan pembaharuan Islam kepada pemerintahan saat itu, namun tidak digubris. Hal ini mendorong Maududi mencari solusi sosio-politik menyeluruh yang baru untuk melindungi kaum muslimin.

Gagasannya ia wujudkan dengan mendirikan Jama’at Islami (partai Islam), tepatnya pada Agustus 1941, bersama sejumlah aktifis Islam dan ulama muda. Segera setelah berdiri, Jama’ati Islami pindah ke Pathankot, tempat dimana Jama’at mengembangkan struktur partai, sikap politik, ideologi, dan rencana aksi.

Sejak itulah Maududi mengosentrasikan dirinya memimpin umat menuju keselamatan politik dan agama. Sejak itu pula banyak karyanya terlahir di tengah-tengah umat. Ketika India pecah, Jama’at juga terpecah. Maududi, bersama 385 anggota jama’at memilih Pakistan. Markasnya berpindah ke Lahore, dan Maududi sebagai pemimpinnya. Sejak itu karir politik dan intelektual Maududi erat kaitannya dengan perkembangan Jama’at. Dia telah “kembali” kepada Islam, dengan membawa pandangan baru yang religius.

(Sumber : Majalah Percikan Iman No. 4 Tahun I Oktober 2000)

Read more
 
Powered by Blogger