Haji Muhammad Amin Al-Husaini

Muhammad Amin Al-Husaini
Tempat, Tanggal Lahir, dan Masa Kecil Haji Muhammad Amin Al- Husain
Muhammad Amin bin Muhammad Thahir bin Mushthafa Al-Husaini adalah pemimpin dan mufti [pemberi fatwa] besar Palestina. Beliau lahir di Al-Quds tahun 1893. Berguru kepada ayahnya sendiri dalam menghapal Al-Qur’anul Karim, mempelajari ilmu agama, dan bahasa Arab. Beliau berangkat ke Mesir dan menetap selama dua tahun, di antara kampus Al-Azhar dan Darud Da’wah wal Irsyad [Kantor Dakwah serta Bimbingan] yang didirikan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Lulus sebagai perwira muda dari Istanbul tahun 1916 dan bergabung dengan Batalion 46 di Izmir. Usai perang beliau kembali ke Al- Quds.


Jihad Muhammad Amin Al-Husaini
Muhammad Amin Al -Husaini dituding sebagai dalang kerusuhan di wilayah Baisan tahun 1920. Karena itu, Inggris berusaha menangkapnya. Beliau melarikan diri ke Damaskus, namun tidak lama kemudian kembali ke tanah airnya.

Tahun 1922, saudara Muhammad Amin Al-Husaini , Kamil Al- Husni, Mufti Al-Quds, wafat. Lalu, beliau dipilih untuk menggantiknnya dengan gelar Mufti Palestin Al-Akbar [Mufti Besar Palestin].
.
Haji Muhammad Amin Husaini  mendirikan Al-Majlisul Islami Al-A’la [Majlis Islam Tertinggi] sekaligus menjadi pemimpinnya. Beliau orang pertama yang menyadari dan mengingatkan bahaya peningkatan jumlah imigran Yahudi di Palestina, setelah perjanjian Bolfour, tahun 1918.

Tahun 1925, Balfour bersama utusan tinggi Inggris berkunjung ke Al-Quds, tapi tidak diperbolehkan memasukinya.

Setiap pergerakan nasional di Palestina atau didirikan untuk membebaskan Palestina, Muhammad Amin Al-Husaini pasti menjadi salah satu pendirinya, baik secara terang-terangan maupun tersembunyi.

Muhammad Amin Al-Husaini menjadi anggota tetap Lajnah [komite] dan utusan di berbagai muktamar. Muktamar terpenting adalah muktamar Islami yang diselenggarakan di Al-Quds, tahun 1928 dan 1931.

Tahun 1933, Muhammad Amin Al-Husaini melakukan lawatan ke negara-negara Arab dan Islam selama enam bulan, untuk mencari solusi masalah Palestina. Ambisinya membangkitkan kaum muslimin untuk berjihad di Palestina dan mencegah upaya Yahudisasi bumi Palestina. Ambisi itu di-wujudkan dengan membentuk kelompok-kelompok jihad rahasia untuk melawan Yahudi Inggris. Ge-rakan ini aktif melakukan manuver sejak tahun 1931 – 1939, yaitu saat dibentuknya Munazhamatul Jihad Al-Muqaddas [Organisasi Jihad Suci] yang dipimpin Abdul Qadir Al-Husaini. Organisasi ini melakukan serangkaian aktivitas jihad hingga tahun 1948.

Tahun 1929, terjadilah revolusi Al-Buraq. Tahun 1937, penguasa Inggris menetapkan penangkapan Muhammad Amin Al-Husaini. Untuk itu beliau melarikan diri ke Libanon. Tahun 1939, pemerintah Inggris mendesak Prancis menyerahkan Muhammad Amin Al-Husaini kepadanya. Lalu beliau meninggalkan Libanon secara diam-diam menuju Bagdad. Setelah pemberontakan Rasyid Ali Al-Kailani, di Irak tahun 1941, Inggris bermaksud menangkapnya kembali. Beliau pun meninggalkan Bagdad, secara sembunyi-sembunyi menuju Iran. Dari Iran, beliau berangkat menuju Jerman. Di Jerman beliau mengutus Utsman Haddad untuk menyampaikan surat kepada Hitler yang berisi tuntutan sebagai berikut, “Pengakuan terhadap seluruh negara Arab, baik yang merdeka, menjadi negara perwalian, atau terjajah. Juga pengakuan terhadap hak bangsa Arab, dengan menolak pem-bentukan negara nasional Yahudi di Palestina dan pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina.”

Di buku, Alfu Yaumin Ma’al Haj Amin, Zuhair Al-Mardini berkata, “Kepentingan umat yang menetukan pilihanku. Nasib seseorang tidak berarti bila berkaitan dengan masa depan umat. Kemenangan Inggris berarti hilangnya Palestina. Bangsa Palestina tidak akan mencapai cita-citanya, kecuali melalui pengorbanan dan darah putra-putranya. Maka sejak tahun 1922-1941 bangsa Palestina tahu masalah, mengenal musuh, tahu siapa saya, apa yang harus saya lakukan, dan untuk siapa saya melakukannya. Saya melakukan lawatan ke berbagai negara, tidak untuk menjadikan diri diken-dalikan mereka, tapi untuk mencari solusi masalahku dan masalah seluruh umat. Saya pergi berun-ding, bukan untuk bekerja sama. Saya ingin keberadanku bermanfaat untuk Palestina secara khusus, dan dunia Arab yang menjadi tanah airku secara umum, serta Islam yang penegakannya menjadi tugas utamaku.”

Al-Hajj  Muhammad Amin Al-Husaini tidak hanya memperhatikan masalah Palestina, namun seluruh masalah dunia Arab dan dunia Islam. Beliau mencurahkan tenaga bersama Rasyid ‘Ali Al-Kailani dan Taqiyudin Al-Hilali untuk memerdekakan negara-negara Arab, baik di belahan Timur maupun Barat. Beliau juga berupaya sekuat tenaga mendapatkan dukungan negara-negara poros dan menuntut dibebaskannya tahanan Arab di penjara-penjara Perancis, seperti Amir Abdul Karim Al-khathabi; pemimpin Maroko, pemimpin Tunisia; Shalih bin Yusuf, Hubaib Tamir, dan lain-lain.

Muhammad Amin Al-Husaini berupaya membentuk pasukan Arab untuk menyelesaikan per-soalan-persoalan dunia Arab, terutama persoalan Palestina. Beliau menghormati keberadaan tentara yang dibentuknya,”Kader-kader ini akan menjadi teladan yang harus dicontoh pasukan di masa mendatang. Anggotanya terdiri dari putra negara-negara besar Arab; Maroko, Tunisia, Mesir, Irak, Palestina, dan lain-lain. Pasukan ini harus menjadi sarana pembebasan unsur-unsur umat dan pelopor persatuan. Saat ini, umat kita disekat dengan batas wilayah sejak masa-masa kemunduran dan penjajahan, sehingga muncul perbedaan logat bahasa dan tradisi. Karena itu, harus ada upaya menyatukan kembali umat dan tsaqafahnya.”
Muhammad Amin Al-Husaini memiliki sikap mulia terhadap kaum muslimin Bosnia di Yugoslavia yang di bantai Serbia. Tanggal 24 Maret 1943, beliau berangkat ke Zaghreb untuk ikut ambil bagian dalam menghapus kezaliman yang diderita kaum muslimin Bosnia Herzegovina. Beliau juga membentuk pasukan dari para pemuda Bosnia untuk mempertahankan diri mereka. Sekembalinya dari Bosnia, beliau kirim surat kepada Perdana Mentri Mesir, Mushthafa An-Nahhas, yang berisi gambaran kondisi kaum muslimin Bosnia Herzegovina dan harapan beliau melakukan sesuatu, sesuai kemampuannya untuk membantu mereka.

Akhir tahun 1943, pesawat sekutu menggempur Jerman. Berlin mendapat gempuran lebih dari seribu pesawat. Rumah yang ditempati Muhammad Amin Al-Husaini dan rekan-rekan juga mendapat serangan berkali-kali. Mereka pun meninggalkan Berlin dan terpencar-pencar ke berbagai wilayah. Di tragedi itu, Dr. Mushthafa Al-Wakil Syahid. Orang Mesir yang menjadi sahabat, orang terdekat, dan paling membantu Muhammad Amin Al-Husaini ini berhasil mendirikan ma’had Islami di Berlin yang menjadi tempat syahidnya.

Pada 4 Mei 1945, Muhammad Amin Al-Husaini dan sahabat-sahabat dipindahkan ke Perancis . Tanggal 19 Mei 1945, mereka ditangkap pasukan Perancis. Duta besar Inggris dan Amerika menun-tut Muhammad Amin Al-Husaini diserahkan untuk diadili di Mahkamah Internasional. Bahkan, Yahudi bersikeras mengadilinya sebagai penjahat perang. Karena itu, beliau meninggalkan Perancis menuju Mesir dengan menyamar, lalu menetap di sana sejak 29 Mei 1946. Itu dilakukan atas bantuan Ma’ruf Ad-Dawalibi.

Muhammad Amin Al-Husaini menceritakan pelariannya dari Perancis,”Peran terpenting di peristiwa itu dilakukan sahabat mulia, Dr. Ma’ruf Ad-Dawalibi, dengan cara memberikan paspornya kepadaku. Saya terpaksa mengambil foto, mengganti pakaian, dan memesan tempat di pesawat yang terbang dari Perancis menuju Kairo.

Penumpang pesawat terdiri dari orang sipil dan militer. Meski demikian tidak terjadi kendala apa pun di pesawat yang membawaku dari Perancis menuju Roma. Di Roma, pasporku diperiksa tim ahli dan tidak ada masalah. Karena cuaca sangat buruk, kami menghabiskan malam di salah satu hotel. Pagi harinya, kami meneruskan perjalanan ke bandara Yunani, karena pesawat mengisi bahan bakar. Dari Yunani pesawat terbang menuju ke Kairo. Untungnya, di pesawat tidak ada yang mengenalku. Sore harinya, pesawat mendarat di bandara, yang sekarang menjadi bandara Internasional Kairo. Paspor penumpang pun diperiksa dan saya keluar dari bandara dengan lega dan memuji Allah karena telah memberikan keselamatan kepadaku. Saat itu saya mengenang syair Al-Busyairi,

“Penjagaan Allah melebihi beberapa kali lipat, baju perang dan lindungan istana”

Saya tidak naik mobil yang disediakan khusus untuk penumpang pesawat dan lebih tenang naik taksi biasa menuju Hotel Metropolitan Kairo.”

Hai’ah ‘Arabiah ‘Ulya li Falistin dibentuk atas kesepakatan majelis liga Arab, dan Muhammad Amin Al-Husaini dipilih menjadi ketuanya. Kemudian, beliau membeli senjata dan membentuk pasukan jihad. Asy-Syahid Yusuf Thal’at, Abdul Qadir Al-Husaini, dan Abdur Rahman Ali bertugas membeli senjata dan memasukannya ke Palestina melalui Gurun Sinai. Lalu, senjata disimpan di daerah Shuraif dan Bir Zait. Muhammad Amin Al-Husaini menata ulang pasukannya dan mengangkat Abdul Qadir Al-Husaini sebagai komandannya.

Muhammad Amin Al-Husaini juga mendirikan organisasi pemuda Palestina dari peleburan organisasi Al-Futuwah, An-Najadah, Al-Jawwalah dan Al- Kasyafah. Yang ditunjuk menjadi pemimpin organisasi ini adalah Mujahid Shagh Mahmud Labib, wakil Ikhwanul Muslimin urusan camping dan perkemahan. Beliau diberi tugas melatih para pemuda untuk berperang.

Ketika keputusan pembagian Palestina ditetapkan, tanggal 29 November 1947, maka mogok massal diumumkan di seluruh Palestina. Terjadilah perang antara bangsa Arab dan Yahudi. Muhammad Amin Al-Husaini berpendapat pasukannya tidak perlu masuk ke Palestina dan cukup berada di perbatasan. Sedang perlawanan terhadap Yahudi diserahkan kepada bangsa Palestina sendiri dan beliau hanya mensuplai senjata dan perbekalan.

Sejarawan Palestina, Arif Al-Arif di bukunya Nakbah Baitil Maqdis berkata,”Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna membangkitkan harapan Liga Arab, tanggal 9 November 1947. Beliau menyatakan kesiapannya mengirim kloter pertama sejumlah sepuluh ribu mujahid Ikhwanul Muslimin ke Palestina. Ikhwan juga mendesak pemerintah mengizinkan mereka berangkat, tapi pemerintah menolak. Meski demikian mereka tidak berputus asa. Tanggal 12 Desember 1947, mereka mengadakan demo besar-besaran dari Al-Azhar, dipimpin langsung Imam Asy-Syahid Hasan Al- Banna, menuntut dilaksanakannya jihad.

Dengan alibi tour ilmiah, sebagian anggota Ikhwanul Muslimin berhasil menyeberangi Terusan Suez menuju Sinai. Pebruari 1948, mereka mulai menyusup ke Palestina. Pada tahun itu juga, Pemerintah Mesir menarik sikapnya dan mengizinkan Ikhwanul Muslimin berlatih . Lalu Ikhwan Mesir dan Suriah berlatih giat. Dari kedua negara ini, beberapa pasukan batalion pasukan Ikhwanul Muslimin diberangkatkan secara resmi menuju Palestina. Mereka berperang dengan gagah berani. Sebagian mereka bertahan dan berjaga-jaga di selatan Al-Quds. Ketika perjanjian damai diumumkan, mereka menyerahkan wilayah itu kepada pasukan Yordania.

Keberanian dan keteguhan pasukan Ikhwanul Muslimin menjadi fenomena istimewa dalam pertempuran di Palestina. Apalagi setiap batalion Ikhwan dipimpin langsung tokoh-tokoh mereka. Batalion dari Suriah dipimpin oleh Syaikh Musththafa As-Siba’i, sedangkan dari Mesir dipimpin oleh Syaikh Muhammad Farghali.”

Amin Husaini bersama Muhammad Natsir
Tahun 1947 – 1948, terjadi pertempuran antara tentara Arab dan Yahudi. Untuk itu, Muhammad Amin Al-Husaini membentuk pasukan jihad suci yang dipimpin Asy-Syahid Abdul Qadir Al-Husaini. Tidak seberapa lama, perang berhenti, karena intervensi negara-negara asing.

Setelah kudeta militer Mesir yang dipimpin Gamal Abdun Naser, 1952, Muhammad Amin Al-Husaini mendapatkan tekanan dan teror dari pemerintahan militer dan media-media resmi Mesir. Karena Abdun Naser menandatangani penyelesaian masalah Palestina secara damai, maka tahun 1959 Muhammad Amin Al-Husaini meninggalkan Mesir.

Muhammad Amin Al-Husaini menceritakan peristiwa memprihatinkan tersebut, “Saya mendapat surat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang proyek penyelesaian masalah Palestina yang diajukan Daag Hammarsjchold dan garis-garis besarnya telah disepakati Presiden Mesir, Gamal Abdun Naser.

Saya tidak mempercayai surat tersebut. Lalu, saya kirim surat rahasia kepada Dr. Muhammad Fira yang menjadi pegawai di PBB. Tidak seberapa lama, ia mengabarkan kebenaran berita dan tambahan bahwa Daag Hammarsjchold sepakat dengan Gamal Abdun Naser untuk menyelesaikan masalah Palestina selama sepuluh tahun, dengan imbalan tiga miliyar dolar. Untuk Mesir satu miliyar dolar, untuk Suriah satu miliyar dolar, dan sisanya dibagi untuk Libanon dan Yordania. Uang ini dijadikan sebagai suap bagi negara-negara yang berdekatan dengan Palestina.

Kemudian, tiba-tiba saja surat-surat kabar Mesir yang dikendalikan pemerintah melancarkan serangan Hai’ah ‘Arabiah ‘Ulya dan tokohnya. Bahkan melontarkan tuduhan keji kepada aktivis yang berusaha menyelesaikan masalah Palestina.

Kami telah mengirimkan jawaban, tapi tidak dimuat di koran mereka. Kami juga berupaya menemui tokoh-tokoh pemerintahan untuk berdialog, namun mereka tidak menanggapi. Tiba-tiba majalah Razar Yusuf melancarkan tuduhan keji yang tidak pernah dibayangkan media Mesir sebelumnya. Tulisan jawaban di majalah tersebut tidak pernah dimuat. Kami juga kirim jawaban ke majalah-majalah Mesir lainnya, tapi tiada yang mau memuat jawaban kami. Bahkan kami mencari pengacara untuk menggugat media keji tersebut, namun tidak menemukan seorang pengacara pun yang berani menggugat media yang didukung penguasa itu.

Pada suatu malam, datanglah seorang pemuda yang ingin bertemu denganku. Ia pengacara terkenal Mesir, yang namanya tidak perlu saya sebutkan. Ia berkata kepadaku.’Saya siap menggugat majalah Razar Yusuf dan saya tegaskan bahwa Anda tidak akan menemukan seorang hakim pun yang berani menjatuhkan hukuman kepada majalah tersebut. Sebaiknya, Anda mengadukan hal ini kepada Presiden secara langsung.’ Saya pun menulis surat kepada Gamal Abdun Naser, namun berkali-kali surat yang saya kirim tidak mendapatkan tanggapan.

Suasana Kairo saat itu memanas. Keberadaan kami di Mesir tidak banyak bermanfaat. Kami selalu dicaci dan diserang, tapi kami tidak dapat memberikan hak jawab. Tanggal 15 September 1959 ,saya putuskan berangkat ke Damaskus. Ketika saya tiba di Beirut, terlintas dalam benakku, sebaiknya saya menghabiskan musim panas di Suq Al-Gharb. Tapi, ketika media Libanon pro Naser tahu kedatanganku, mereka segera melancarkan kekejian dan fitnah kepadaku. Sementara media-media lain enggan membela masalah Palestina, mengungkap sebab-sebab serangan keji dan kaitannya den-gan proyek Daag Hammarsjchold serta suap yiga miliyar dolar. Ketika saya benar-benar yakin tidak dapat melakukan sesuatu apa pun di Mesir, saya putuskan meninggalkan Mesir dan menetap di Liba-non.”

Pada suatu kesempatan Muhammad Amin Al-Husaini berkata, “Solusi masalah Palestina tidak terwujud dengan mengalah dan menelantarkan hak-hak rakyat Palestina, hingga memupuskan harapan bangsa Palestina untuk hidup mulia. Masalah Palestina tidak memberi tempat sedikit pun untuk kehidupan damai berdampingan dengan musuh. Sebab, kita tahu dengan yakin bahwa musuh tidak ingin hidup berdampingan dengan seorang pun. Mereka hanya ingin mengulur-ngulur waktu untuk menimpakan kerugian pada umat, keselamatan, masa depan generasi, dan merampas segala milik kita. Mereka meyakini negara kita milik mereka secara keseluruhan, bahkan seluruh alam milik mereka. Keyakinan Yahudi seperti ini diketahui setiap orang yang mempelajari sejarah Yahudi, buku-buku, masa lalu, dan masa sekarang mereka. Mereka menipu kita untuk mencari saat yang tepat me-laksanakan rencana-rencana busuk.” 

[Dinukil dari buku MEREKA YANG TELAH PERGI karya Almustasyar Abdullah 'Aqil]



Free Counter | Diseño Web

comment 3 komentar:

Heri Efendi mengatakan...

tes

toko ufukislam on 21 Januari 2012 07.56 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
Hammam on 21 Januari 2012 13.05 mengatakan...

hebat....

Posting Komentar

 
Powered by Blogger