Membantu Anak Mengelola Amarah

Tidak sedikit orang tua yang kebingungan untuk bersikap tepat ketika menghadapi anak-anak mereka yang sedang marah. “Kami bingung ketika menghadap anak kami yang pemarah, selalu meledak-ledak, ngambek dan sulit sekali bila tidak dituruti..” aku seorang ibu membatin. Kebingungan seperti di atas bisa jadi juga sering kita rasakan. Dan boleh jadi ungkapan serupa pun sering terlontar dari mulut kita.

Anak marah, atau anak mengamuk, sebenarnya adalah situasi yang biasa atau umum terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Marah adalah energi jiwa, sebagaimana sedih, gembira, dan berbagai ekspresi jiwa lainnya. Anak anda marah, menunjukkan bahwa anak itu sehat-sehat saja, normal. Justru sebaliknya, jika anak tidak pernah menunjukkan emosi kemarahannya, itu pertanda ada sesuatu dengan anak kita. Bahkan, menurut Rasulullah saw. Benci (yang sering mendasari kenapa orang marah) adalah indikator paling kuat dari kualitas keimanan seseorang. Beliau katakan, “ Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah, dan benci karena-Nya.” Jadi tidak ada sesuatu yang salah dengan amarah.

Yang jadi masalah adalah ketika kemarahan itu tidak jelas ujung-pangkalnya, tidak terkendali dan bukan pada saluran yang semestinya. Apalagi jika kemarahan itu diluapkan dengan cara-cara diluar etika Islam. Marah seperti ini bisa menimbulkan bencana. Marah seperti inilah yang menjauhkan seseorang dari surga Allah. Dan marah seperti inilah yang membuat setan menari-nari kemudian ikut mengendalikan emosi jiwa hingga terjerumus pada perbuatan nista. Inilah makna sabda Rasulullah, “Jangan marah! jangan marah! jangan marah! maka bagimu surga.”

Jika emosi semacam ini sering diperturutkan hingga menjadi perangai dan akhlak sehari-hari kita atau anak kita, maka layaklah kalau julukan Si Pemarah itu disematkan kepada diri kita atau anak kita. Wal iyadzubillah. Disinilah pentingnya kita mengelola amarah. Disini pula kita diingatkan untuk juga membantu anak kita agar bisa mengelola dan mengendalikan amarahnya.

Anak kita adalah anak kita
Modal yang paling mendasar untuk membantu anak kita mengelola amarahnya adalah sikap proaktif kita. Bimbing dia untuk keluar dari masalah yang kadang memang tidak disadarinya itu. Bantu dia untuk sampai pada kematangan emosinya. Agar menjadi anak yang jiwanya terisi dengan iman dan raganya terhias dengan Islam.

Anak kita adalah anak kita, bukan anak tetangga, atau anak gurunya. Kesuksesannya adalah kesuksesan kita. Permasalahannya adalah permasalahan kita juga. Jangan terayu untuk berpikir, mentang-mentang kita sudah membayar mahal biaya sekolah, lantas 100% tanggungjawab pendidikan, termasuk membantu anak mengendalikan emosinya kita serahkan juga kepada sekolah ataupun gurunya.

Betapa luhurnya pribadi Luqmanul Hakim. Betapa bertangungjawabnya ia. Inilah teladan para bapak (tidak terkecuali para ibu) dalam mendidik anak-anaknya. Lukman tak mau menyerahkan urusan pendidikan anak kepada orang lain, bahkan istrinya apalagi “sekolah” anak. Ia terjun langsung menanamkan nilai-nilai mendasar kerelung jiwa anaknya. Allah menghadiahkan cerita itu kepada kita,
(13) Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (14) Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.” (QS. Lukman:13-14)

Salah satu bencana terbesar dalam dunia pendidikan anak adalah ketika orang tua berlepas diri dari pendidikan anaknya dan menyerahkan semua urusan itu kepada orang lain yang belum tentu bisa dipercaya. Kondisi inilah yang memicu lahirnya orang tua-orang tua dayyuts. Mereka membiarkan anak-anaknya terjerumus ke dalam kehidupan yang tidak diridloi Islam, yang penting bisa makan, yang penting bisa minum, yang penting bisa happy, yang penting anaknya kelak bisa mencari nafkah. Tak sedikitpun kecemburuan dirasaknnya meski anaknya tidak lagi menjalankan beragai kewajiban agama. Rasulullah mencap orang tua seperti ini sebagai orang yang tidak layak untuk masuk surga. Waliyadzubillah.

Faaqidusy Syaii laa Yu'tiihi
Seperti kata pepatah arab, “orang yang tidak punya sesuatu maka dia tidak akan bisa memberikannya kepada orang lain.” maka, seperti itu pula kita dalam membimbing anak mengendalikan amarahnya. Ketika seorang ibu terpancing untuk marah karena kemarahan dan rengekan atau amukan anaknya, maka saat itu pula sang ibu sudah kehilangan kesempatan untuk mengarahkan anak dari permasalahan emosinya. Baru-baru ini, bahkan seorang ibu tanpa sadar telah membunuh anaknya yang berumur 2,9 tahun karena marah. Padahal mungkin tidak terbersit sedikitpun dibenaknya untuk membunuh anaknya tersebut; namun karena jiwanya telah dikuasasi amarah, ia pun harus rela kehilangan anaknya. Lebih dari itu, ia harus menyesali perbuatannya itu seumur hidupnya.

Ketika anak marah, sebisa mungkin orang tua mengendalikan amarahnya sendiri. Dalam suasana hati yang tenang, orang tua akan mudah mengidentifikasi apa yang menyebabkan anaknya itu marah. Trik-trik apa yang dapat dilakukan untuk meredakan amarah anaknya sekaligus membantu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Dan pada saat yang sama mengajarinya untuk bijak dalam mengekspresikan kekesalannya dengan baik. Tidak dipungkiri, pada kondisi seperti ini banyak orang tua mengaku kesulitan mengendalikan amarahnya. Sebagian orang tua bahkan alergi dengan rengekan anak. Akan dengan mudah amarahnya bangkit jika telinganya mendengar anaknya rewel apalagi ngamuk. Namun prinsipnya, faaqidusysyaii laa yu'thiihi. Jika anaknya marah, berarti anda tidak punya modal lagi untuk membimbing anak anda mengendalikan amarahnya. Anda kehilangan kesempatan itu. Satu hal lagi, semua yang belum terbiasa itu sulit dilakukan. Ketika kecil pun kita sulit makan dan minum, namun seiring latihan, makan dan minum sekarang menjadi kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.

Jauhi sikap “yang penting anak tidak marah”
Sikap pragmatis seperti ini sepertinya menjadi obat mujarab, namun sesungguhnya menjeruskan anak pada karakter dan sikap-sikap yang tidak terpuji. Jika untuk meredakan kemarahan anak, kita selalu perturutkan keinginannya, maka anak akan tumbuh menjadi anak manja yang selalu meuntut orang tuanya. Dan ketika orang tuanya tidak mengabulkan permintaanya, maka marah akan menjadi pelampiasan dan jurus terakhirnya merayu orang tua. Relakah jika anak-anak kita berkepribadian seperti ini?

Sebagain orang tua ada yang bertindak sebaliknya. Melihat anaknya diselimuti kemarahan, mereka langsung mensikapinya dengan kasar, kadang dengan motif kekerasan; mengancam, anak, mencubitnya atau memukulinya. Solusi seperti ini tidak dilakukan kecuali oleh orang tua yang tidak tahu cara mendidik anak kecuali dengan bahasa kekerasan. Dan jika ini yang terjadi, maka siap-siaplah mendapatkan hati anak hancur berkeping-keping. Siap-siaplah akan lahirnya permasalahan yang lebih besar dalam diri anak dikemudian hari. Lebih besar ketimbang rengekan dan marahnya ketika kecil.

Jangan jadi pembohong!
Membohongi anak agar tidak marah-marah adalah juga cara-cara “yang penting...” itu tadi. Cara instan yang justru akan 'meracuni' pribadi anak. Bila orang tua ingin agar anaknya menjadi orang yang jujur, jangan lah pernah berbohong kepadanya, meski dengan tujuan agar ia diam dan tidak marah-marah.

Sebagian orang tua, ketika mendapati anaknya marah, seringkali dia menakut-nakuti anaknya, “de...jangan marah, nanti kalau marah hantunya datang lho!” atau dengan ungkapan-ungkapan sejenis yang justru, selain mengandung kebohongan, juga akan menanamkan keyakinan yang salah. Secara prikologis akhirnya anak pun akan menjadi penakut dan tidak mudah percaya lagi kepada orang tuanya.

Rasulullah bahkan berpesan, “Berhati-hatilah kamu sekalian dari berbohong, karena perbuatan itu tidak dibenarkan, baik berbohong ketika berbicara serius, maupun ketika bersenda gurau. Dan janganlah seseorang berjanji kepada anaknya yang masih kecil sekalipun, lalu ia tidak menepatinya. Sesungguhnya kebohongan itu mengantarkan seseorang kepada sikap membangkang, sedang pembangkangan mengantarkan ke neraka..”(HR Ibnu Majah)

Alihkan Perhatiannya
Anak memang sudah memiliki kemampuan berpikir dan mengingat, namun pada level yang masih sangat terbatas. Jika ia menginginkan sesuatu kadang bisa dengan cepat lupa jika diarahkan pada hal yang lebih menarik perhatiannya. Karenanya, Salah satu trik cerdik meredam kemarahan anak adalah dengan mengalihkan perhatiannya. Seperti mengatakan kepada anak balita yang sedang marah, “eh...tuh liat, cicak!...kenapa ya cicaknya kok bisa ngak jatuh? Lucu ya cicaknya!”

Inilah sebagian metode dan trik membantu anak mengatasi emosi marahnya. Barangkali anda punya pengalaman menarik lainnya untuk membantu anak mengelola dan mengendalikan kemarahannya. Jika tidak keberatan, kami senag jika anda berbagi!

Heri Efendi




comment 0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger