Ibnul Qayyim Al Jauziyyah

karya Ibnul Qayyim
Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyah dapat dinilai sebagai salah satu ulama yang paling menonjol dalam disiplin ilmu-ilmu syar’i. Beliau mengarang banyak kitab. Selain itu dalam diri beliau terhimpun berbagai kelebihan yang meliputi kedalaman pikiran dan ketajaman analisis. Beliau mengungkapkan pokok pikirannya tersebut dengan gaya bahasa yang halus dan lugas.

Terlebih lagi, Ibnul Qayyim mempunyai kosakata bahasa yang kaya. Setiap kata disampaikannya dengan tepat, melalui urutan yang sistematis dan peletakan bab yang rapi. Logika berpikirnya runtut dengan kandungan materi yang sangat mendalam tanpa perlu memakai kata yang bertele-tele.
Dalam diri Imam Ibn al-Qayyim al- Jauziyah, anda bisa melihat cahaya terang layaknya para ulama salaf. Beliau dianugrahi hikmah layaknya ulama klasik. Beliau dapat dikategorikan sebagai salah satu filosof sekaligus sarjana yang paling kuat dan rapi dalam menyampaikan pokok pikirannya melalui bahasa tulis.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah dilahirkan pada tahun 691 H dan wafat pada tahun 751 H di Damaskus Syiria. Beliau menyerap ilmu dari para ulama dan fuqaha’ zamannya. Ketangguhannya di bidang fiqih melambungkan derajatnya sehingga beliau mampu mensejajarkan diri dengan imam mazhab. Dari sini beliau punya wewenang untuk menyampaikan fatwa dan ijtihadnya sendiri. Beliau bergaul akrab dengan syaikh Taqiyyuddin bin Taimiyah dan belajar darinya.

Secara umum, beliau sangat mendalami ilmu-ilmu keislaman. Wawasannya luas dalam bidang tafsir dan dasar-dasar agama [ushuluddin]. Pengetahuannya tentang dua disiplin ilmu ini telah mencapai puncaknya. Beliau juga terhitung pakar dalam bidang hadits, makna-maknanya, fiqhnya dan tata cara melakukan penggalian hukum darinya serta semua cabang keilmuan yang bertalian dengannya.

Tidak dapat diabaikan, beliau juga sarjana di bidang fiqh dan ushul fiqh. Samudera gramatika Arab juga tidak lepas dari perhatiannya. Dalam dunia tasawuf, keahliannya sudah tidak perlu ditanya lagi. Beliau sangat mendalami setiap tahapan atau maqam tasawuf, makna-makna yang tersembunyi dan isyarat-isyarat yang tidak tampak. Dalam semua bidang keilmuan ini, beliau sudah layak untuk dijadikan tempat bertanya.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah adalah orang yang sangat tenang dengan pembawaan yang berwibawa. Akhlaknya sangat terpuji. Salah seorang sahabatnya, Ibn Katsir, pernah mengenang dirinya sebagai berikut:
‘’Dia adalah orang yang sangat mahir dalam bidang baca tulis. Akhlaknya terpuji. Kasih sayangnya kepada orang lain sungguh besar. Tidak pernah sekalipun dia dengki kepada orang lain, menyakitinya, apalagi mencelanya. Tidak pernah dia menggunjing orang lain. Aku adalah orang yang paling dekat dengannya. Aku juga orang yang paling disayanginya. Di zaman kita ini, aku tidak pernah melihat orang yang paling banyak ibadahnya daripada dia. Kalau sedang shalat, dia mengerjakannya dengan lama. Sujud dan ruku’nya juga sangat panjang’’.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah gemar beribadah. Beliau suka tahajjud dan mengerjakan shalat sampai begitu lama untuk mencapai tujuan puncak. Ini masih dilanjutkan dengan berdzikir untuk memanjatkan do’a kepada Allah. Hal ini mencerminkan kecintaan dan kerendahhatiannya akan pertolongan Allah. Beliau berusaha untuk terus khusyu’ dan tadharru’ [meneguhkan diri] dalam mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Sebagai ulama yang terkenal namanya, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah tidak lepas dari gangguan dan siksaan dari sejumlah pihak. Pernah suatu kali beliau dipenjara bersama dengan Imam Ibnu Taimiyah di akhir usianya. Beliau dipenjara dalam sebuah sel tersendiri dan baru dilepaskan setelah Imam Ibnu Taimiyah meninggal akibat hukuman penjara yang tidak bermoral itu.

Sepanjang hidup, beliau menghabiskan waktunya untuk membaca al-Qur’an, bertafakkur dan merenungkan makna surat dan ayat. Sehingga Allah menurunkan segudang fadhilah kepadanya. Dari sini dimulailah kepekaan dan ketajaman pikirannya dalam memahami segala sesuatu. Dengan sebab itu pula, beliau punya kemampuan untuk berbicara tentang keilmuan para ahli ma’rifat dan menyelami samudera pemikiran mereka. Semua karyanya juga dibajiri dengan hikmah-hikmah seperti itu.
Imam Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menunaikan haji beberapa kali. Beliau mukim beberapa lama di Mekkah. Sampai-sampai penduduk Mekkah sendiri sangat akrab dengan kehadirannya. Mereka sering melihatnya melaksanakan ibadah sampai lama sekali dan berkeliling untuk thawaf di waktu-waktu yang tidak lazim.

Kesarjanaanya dalam semua bidang ini menggerakkan hati para penuntut ilmu untuk berguru padanya. Padahal pada waktu itu para guru Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah masih hidup, sampai kemudian guru-gurunya meninggal. Para muridnya ini banyak mengambil manfaat darinya. Para ulama sangat mengagungkan dan menghormatinya.

Beliau yang mulia telah meninggalkan sejumlah warisan berharga yang tiada ternilai kepada kita. Diantara yang perlu kita sebutkan di sini adalah kitab I’lam al-Muwaqqi’in, at-Thuruq al-hukmiyyah fi al-Siyasat al-syar’iyyah, Syifa’ al-‘Alil fi Masail al-Qadha’ wa al-Qadar wa al-hikmah wa al-Ta’lil, Kasyf al-Ghatha’ ‘an Hukmi Sima’ al-Ghina, Ahkam ahl al-dzimmah, Tuhfat al-Maudud bi Ahkam al-Maulud, Miftah Dar al-Sa’adah, Zad al- Ma’ad, al-Shawa’iq al-Mursalah ‘ala al-Jahmiyyah wa al-Mu’thilah, Madarij al-Salikin, Kitab al-farusiyah, Tafsir al-Mu’awwidzatain, al-Wabil al-shaib min al-Kalim al-Thayyib, al-Ruh, al-Fawaid, Hidayat al-hayari dan al-fawaid al-Masyuqah ila ‘Ulum al-Qur’an wa ‘ilm al-Bayan. Tiga buah kitab yang disebut terakhir ini telah diterbitkan dengan hasil editan saya. Semuanya diterbitkan oleh Dar al-Kitab al-‘Arabi.

Memang banyak sekali dimensi politik yang berperan dan mempengaruhi penilaian terhadap kepribadian seseorang, termasuk para ulama. Dimensi politik bisa saja membuat seseorang itu menilai orang lain sebagai pribadi yang lurus, demikian juga sebaliknya. Akan tetapi di sisi lain, ada sebagian ulama yang mengkritik ulama karena sudut pandang politik yang berbeda. Karenanya, penilaian ini memang tergantung pada sudut pandang masing-masing orang dalam melihat ulama tersebut.

Sebab itu lumrah kalau tidak ada kesepakatan di antara para ulama dalam melihat Imam Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah. Akan tetapi, tentang jati dirinya semua sepakat bahwa beliau berkedudukan mulia di antara para ulama lain. Posisinya cukup menonjol di antara rekan-rekan yang lainnya. Dengan menggunakan teropong keilmuan, menurut salah satu sudut pandang, terbukti bahwa para ulama, mujtahid dan para sejarawan sangat menghormatinya dan menganggapnya berada di rel yang lurus.

Apa Pendapat para ulama dan sejarawan terhadap sosok Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah?

Al-Qadhi Burhanuddin al-Zara’i berkomentar, " Di kolong langit ini tidak ada seorang pun yang lebih luas ilmunya dibandingkan Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah ".

Al-Hafizh bin Rajab al-Hanbali mengeluarkan ungkapan: " Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mempunyai kapasitas keilmuan lebih luas dari padanya. Aku belum pernah menemui orang yang lebih paham tentang makna al-Qur’an dan sunnah serta hakikat iman ketimbang beliau. Memang, beliau bukanlah seorang manusia yang terjaga dari kesalahan, akan tetapi aku tidak pernah melihat orang yang sejajar dengannya."

Al-Dzahabi berkata dalam kitab al-Mukhtashar:v’’ Ibnul Qayyim al-Jauziyah adalah orang yang sangat memperhatikan hadits, matan sekaligus rawinya. Beliau juga ahli dalam disiplin dan sanggup membuat keputusan hukum. Dalam bidang gramatika Arab beliau juga punya wawasan luas. Tentang al-Qur’an dan sunnah, beliau tidak perlu diragukan lagi’’.

Imam Ibnu Katsir juga mengatakan, " Dia mendengar sebuah hadits dan kemudian mempelajarinya secara mendetail. Wawasannya sangat luas dalam semua cabang ilmu. Terutama dalam disiplin ilmu tafsir dan hadits’’.

Al-Zarkali menyatakan:’’ Dia adalah salah satu tokoh yang mereformasi Islam dan termasuk ulama besar di dalamnya’’.

Ringkasnya, Imam Ibn al-Qayyim al- Jauziyah adalah seorang yang memiliki keistimewaan berbagai sifat yang sangat mendukungnya menjadi ulama besar Islam. Terlebih lagi, beliau mampu memadukan antara daya kemampuan ilmiah dan imam di satu sisi, dan kejujuran dan ketekunannya di sisi lain. Dua hal ini melejitkan posisinya dalam barisan para ulama Islam. Sekaligus membuat semua warisan karyanya menjadi kekayaan yang tak terhingga nilainya. Karenanya, al-Maktabah al-‘Arabiyyah al-Islamiyyah tergerak untuk mencetak buku-bukunya.

(Dinukil dari buku Kemuliaan Sabar dan Keagungan Syukur dengan sedikit perubahan dan edit.)

Anda ingin mendapatkan buku Kemuliaan Sabar dan Keagungan Syukur  silahkan berkunjung ke www.toko.ufukislam.com

comment 0 komentar:

Posting Komentar

 
Powered by Blogger